5. Makan Bakso dengan Kuahnya

“If you don’t have time to read, you don’t have the time (or the tools) to write.” — Stephen King

“Penulis yang baik adalah pembaca yang rakus.” Ini salah satu peribahasa yang sering dikutip sampai lecek di dunia persilatan penulis. Tapi, kalau diperhatikan lenih lanjut, sepertinya rakus saja tidak cukup. Banyak orang membaca belasan buku dalam sebulan—termasuk buku-buku setebal batu bata yang dibaca tamat dalam dua hari—tapi begitu diminta menulis, kalimat pertamanya saja sudah megap-megap.

Menurut saya, masalah sebenarnya lebih pada bagaimana kamu mengunyah bacaanmu daripada berapa jumlah halaman yang kamu telan. Bagi penulis, membaca tanpa memperhatikan teknik penulisan itu seperti makan bakso tanpa menikmati kuahnya. Ya, kenyang sih, tapi sayang banget kuahnya dianggurin.

Bagi penulis, membaca tanpa memperhatikan teknik itu seperti makan bakso tanpa menikmati kuahnya.

Stephen King pernah berkata, “If you don’t have time to read, you don’t have the time (or the tools) to write,” yang artinya, “Kalau makan bakso, sekalian sama kuahnya, deh!”—eh, bukan, ding. Pada kalimat ini, anjuran untuk membaca disampaikan secara implisit. Yang lebih ditekankan justru bahwa jika tidak membaca, penulis tidak akan punya peralatan kerja untuk menulis.

Tapi, bagaimana penulis bisa punya peralatan kerja melalui membaca?

Membaca di sini tentu bukan kaca, sembarang kaca; kaca penganten, mahal harganya. Bukan baca, sembarang baca; baca yang paten, ambil ilmunya. Yelah, malah mantun. Maksudnya, bukan sekadar membaca, melainkan membaca dengan sadar untuk mempelajarinya. Saat kita membaca dengan sadar, kita bisa belajar bagaimana sebuah tulisan dibangun. Misalnya, bagaimana adegan dikelola, bagaimana ketegangan dibangun, atau bagaimana kalimat pendek bisa meninju lebih keras daripada kalimat panjang. Tanpa membaca dengan sadar, penulis jadi seperti tukang yang nekat membangun rumah cuma pakai palu.

Membaca untuk menikmati alur cerita saja memang bagus untuk pembaca santai yang ingin cari hiburan. Namun, kalau ingin bisa menulis (lebih baik), kamu perlu melongok ke balik deretan kalimat bacaanmu. Kamu perlu mengamati teknik, memetakan struktur, dan menangkap trik kecil yang membuat tulisan itu menarik. Jadi, yang meningkatkan kemampuan menulis adalah bagaimana setiap buku yang kamu baca menambah satu alat baru ke dalam kotak peralatanmu. Setelah itu, barulah kamu memiliki peralatan kerja yang cukup lengkap untuk bisa membangun sesuatu dengan tanganmu sendiri.

Dan begitu kamu mulai membaca dengan “mata teknisi” seperti itu, kamu akan menemukan hal-hal yang sebelumnya tidak kamu lihat. Misalnya, alih-alih membaca Animal Farm hanya sebagai fabel satire, kamu bisa mempelajari bagaimana Orwell memakai kalimat lugas untuk menyampaikan kritik sosial yang menggigit. Dari situ kamu belajar bahwa kekuatan prosa tidak selalu butuh metafor berlapis-lapis, cukup keberanian menulis apa adanya dengan tajam. Tapi untuk menyadari itu, kamu harus membaca sambil menyalakan radar dengan bertanya, “Loh, kalimat sederhana kok bisa nampar gini, ya?”

Dalam tulisan-tulisannya, Zadie Smith memperlihatkan bagaimana ritme dan struktur kalimat memengaruhi warna sebuah paragraf. Dan kalau kamu membaca cerpennya di Grand Union, kamu bisa memperhatikan caranya meramu struktur kalimat dengan humor, kegetiran, dan observasi sosial secara ciamik. Bagi pembaca biasa, itu mungkin sekadar gaya penulisan yang keren. Tapi bagi calon penulis, itu laboratorium teknik. Kita bisa belajar bagaimana dia memotong dialog, bagaimana dia memindahkan sudut pandang, atau bagaimana dia menjaga alur tetap solid. Semua itu tidak akan terlihat kalau kita membaca dengan mengalir saja, apalagi sambil ngemil.

Kenyataannya, memang banyak orang membaca buku seperti menonton air mengalir. Rasanya memang menenangkan, tetapi tidak benar-benar menghasilkan apa-apa. Untuk penulis, membaca mestinya tidak sesantai itu—setidaknya, tidak selalu. Kamu perlu melakukan yang namanya membaca aktif (active reading) atau membaca dengan tujuan (reading with purpose), yaitu membaca sambil mengamati, mempertanyakan, bahkan boleh juga sesekali mencurigai pilihan kalimat penulisnya.

Yang bikin kita berkembang bukan jumlah buku yang ditamatkan, tapi bagaimana kita membongkar cara penulis membangunnya.

Misalnya, ketika membaca The Thing Around Your Neck karya Chimamanda Ngozi Adichie, kamu bisa berhenti sejenak dan bertanya: “Kenapa ketegangan langsung terasa di paragraf pertama?” atau “Kenapa dialog pendek ini terasa seperti ledakan emosi?” Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itu akan membantu caramu membangun ketegangan, atau menyalakan emosi, atau menyembunyikan informasi.

Ketika kamu membaca dengan tujuan seperti itu, buku berubah menjadi bengkel kerja. Kamu membongkar kalimat, memeriksa bautnya, dan berusaha memahami kenapa mesin emosinya bisa berjalan mulus. Dan meski proses ini membuatmu lebih sering menatap halaman sambil mengerutkan kening, percayalah, kerutan itu adalah investasi jangka panjang untuk tulisanmu.

Di Indonesia pun banyak tulisan menarik untuk dipelajari. Ambil Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, misalnya. Selain kisahnya yang penuh mitologi dan humor gelap, kekuatan novel itu terletak pada cara penulisnya menggabungkan realisme dan fantasi dengan mantap. Kalau kamu membaca dengan mata penulis, kamu bisa belajar bagaimana dia membiarkan kalimat panjang mengalir tanpa kehilangan kontrol, bagaimana dia menanam humor di tempat yang tidak terduga, dan bagaimana dia menciptakan dunia yang berlebih-lebihan tapi tetap rapi.

Tulisan Intan Paramaditha, seperti Sihir Perempuan, juga bisa menjadi bahan pemelajaran yang bagus. Di sana dia menggunakan tubuh perempuan, hantu, dan figur-figur gelap sebagai simbol pembacaan terhadap kuasa patriarki dan bentuk perlawanan. Cerpen-cerpennya bergerak antara yang nyata dan yang gaib, antara pengalaman perempuan sehari-hari dan alegori yang mengejutkan. Kamu bisa membaca ceritanya sebagai kisah mistis, tetapi di saat yang sama, kamu bisa menemukan kritik sosial yang tajam di dalamnya.

Satu lagi, banyak orang membaca seperti naik angkot sekali jalan sambil melamun: tahu-tahu sudah sampai tujuan dan tak ingat lewat mana saja. Padahal, penulis berkembang justru dengan membaca ulang dengan pikiran siaga. Membaca pertama untuk menikmati cerita, membaca kedua untuk mempelajari teknik, membaca ketiga untuk … memastikan kamu bisa balik lagi ke dunia nyata dan membawa alat baru yang bisa digunakan.

James Baldwin, misalnya, pernah bilang bahwa dia membaca ulang buku-buku tertentu. Dan jika kamu perhatikan Notes of a Native Son karyanya, kamu akan merasakan bahwa dia memahami betul bagaimana menekan dan melepaskan ketegangan di setiap esai. Itu dia dapatkan dari membaca secara sadar, berulang-ulang, teliti, dan kadang mungkin sedikit obsesif.

Dan sesekali cobalah membaca di luar zona nyaman. Kalau kamu biasanya membaca fiksi romantis, cobalah baca tulisan Malcolm Gladwell. Di situ kamu belajar bagaimana sebuah argumen dibangun perlahan seperti jebakan kijang, pelan-pelan tapi efektif. Kalau kamu biasanya membaca teori berat, cobalah baca humor ringan David Mitchell (ini yang penulis Cloud Atlas, bukan yang komedian). Kamu akan sadar bahwa tulisan yang tampak ringan pun ditopang oleh struktur yang sangat rapi.

Setiap buku adalah bengkel kerja asalkan kamu membaca dengan mata teknisi, bukan sekadar mata penonton.

Intinya begini: membaca adalah kelas menulis, tetapi hanya kalau kamu bersedia memperlakukannya sebagai tempat belajar. Kalau kamu sekadar menamatkan 1.000 buku tanpa menyimak cara pengarangnya menulis, kemampuan menulismu akan tetap lemot seperti laptop jadul pas buka 10 tab Chrome sekaligus. Tapi kalau kamu membaca dengan tujuan sambil belajar—dengan mengamati, menandai, dan mencatat hal-hal kecil—setiap buku akan memberimu pelajaran gratis. Kamu belajar ritme dari satu penulis, belajar dialog dari penulis lain, belajar struktur dari yang lain lagi.

Dan lama-lama, kamu akan menyadari bahwa semua yang kamu baca mulai meningkatkan keterampilanmu sekaligus memperkaya tulisanmu. Kalau menulis diibaratkan memasak, makin banyak rasa dan aroma yang kamu kenal, makin mudah kamu menciptakan resep sendiri. Dan kalau nanti masakanmu terasa aneh, kamu selalu bisa meracik ulang resepmu—atau setidaknya, kamu jadi sadar untuk tidak ngotot ikutan Masterchef dulu. [MW]