4. Menulis untuk Diri Sendiri Dulu

“I don’t write for readers. I write for myself. If readers like it, that’s fine, but that’s not my purpose.” — Haruki Murakami

Bayangkan ketika kamu duduk di depan laptop mau menulis, tiba-tiba muncul sesosok kurcaci kiut setinggi gelas kopi, yang berdiri di atas meja sambil memberi nasihat, “Tulis aja untuk kamu sendiri dulu, Bray, jangan mikirin pembaca.” Kurcaci itu adalah versi mini kamu yang lebih bijak dan penyabar. Mungkin tampang dan gaya bicaranya tidak meyakinkan, tapi omongannya benar. Sering kali, yang membuat kamu mandek memang bayangan para pembaca yang tidak ada—lha, wong tulisan kamu aja belum ada, je.

Sayangnya, ketika kita mulai menulis, sering kali yang muncul justru bayangan sekelompok pembaca imajiner berpakaian hitam-hitam dengan buku catatan dan wajah ketus. Mereka memelototi setiap ketukan kibor kita. Setiap kali kita menulis sesuatu yang mereka sukai, mereka memberi tanda centang. Sebaliknya, ketika kita menulis sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka menorehkan tanda silang. Alhasil, selama menulis, kita merasa seperti sedang diawasi tim audit.

Ketika si kurcaci menasihati untuk “menulis untuk diri sendiri dulu,” yang dia maksud adalah memberi ruang bagi pikiran untuk bergerak tanpa pengawasan. Fase awal menulis seharusnya memang dibiarkan bebas. Seperti ruang latihan privat, di sana tempatnya ide-ide boleh melompat, tergelincir, bahkan bertabrakan tanpa ada yang menilai. Menulis untuk diri sendiri adalah fase ketika kita mempersilakan pikiran menari tanpa sepatu ketat standar publik, baik pembaca maupun editor. Dan banyak penulis besar memulai drafnya dari ruang privat semacam itu, sebelum membentuknya menjadi versi yang lebih rapi untuk dunia.

Draf awal adalah ruang privat: tempat pikiran boleh menari tanpa diawasi pembaca imajiner.

Kurt Vonnegut, misalnya. Dalam pengantar kumpulan cerpennya, Bagombo Snuff Box, dia menyarankan untuk “Write to please just one person.” Seseorang itu mestinya kamu sendiri karena kamulah yang benar-benar bisa menerima suaramu apa adanya, bukan khalayak pembaca, bukan editor, bukan pula kritikus.. Kalau itu terjadi, kamu bisa menulis lebih jujur sekaligus lebih bebas. Vonnegut percaya bahwa tulisan yang awalnya lahir dari ruang aman seperti itu dapat menemukan pembacanya dengan lebih alami. “Kalau belum apa-apa kamu sudah membuka jendela dan bercinta dengan dunia, tulisanmu akan kena radang paru-paru,” lanjutnya.

Sejalan dengan Vonnegut, dalam wawancara yang dimuat di The Guardian, Haruki Murakami dengan blak-blakan bilang, “Saya tidak menulis untuk pembaca. Saya menulis untuk diri saya sendiri. Kalau pembaca suka, ya tidak masalah, tapi itu bukan tujuan saya.” Ini sejalan dengan pengakuannya dalam bukunya, Novelist as a Vocation. Di sana dia menyatakan, “Benar adanya ketika saya berkata bahwa saya menulis untuk diri saya sendiri.” Kalimat-kalimat itu menggambarkan fondasi proses kreatifnya. Dia menulis bukan untuk memuaskan siapa pun selain dirinya sendiri. Dia tidak peduli selera publik, tidak berusaha mengikuti apa yang sedang tren, dan tidak sibuk menyenangkan pembaca imajiner. Dia menulis apa yang ingin dia tulis untuk dirinya sendiri.

Menulis untuk diri sendiri dulu adalah cara menjaga suara kita tetap jujur dan berani.

Dengan ungkapan berbeda untuk gagasan serupa, dalam On Writing, Stephen King menganjurkan untuk “write with the door closed, rewrite with the door open”. Metafor ini mengingatkan kita untuk menahan diri dari keinginan menyenangkan siapa pun di tahap awal. Draf awal adalah wilayah pintu tertutup. Jika sejak awal kamu menulis sambil membayangkan komentar pembaca, kamu seperti sedang mencoba menari sambil mengingat-ingat manual peraturan. Akibatnya, energi spontanmu akan hilang sebelum sempat tampil di panggung.

Jules Renard memberikan lapisan reflektif berkenaan dengan ini. “Writing is a way of talking without being interrupted,” katanya. Dan percakapanmu akan terus terinterupsi jika kamu membayangkan suara publik yang, jujur saja, kadang seperti rombongan warganet yang muncul hanya untuk memberi komentar buruk tanpa diminta—dan komentarnya enggak nyambung pulak! Menurut Renard, sebelum tulisan siap diuji oleh orang lain, ia perlu melewati fase personal dulu, yaitu fase ketika cuma kamu yang mendengarkan suaramu.

Menulis untuk diri sendiri juga membantumu menjaga integritas kreatif. Ya, integritas, kata yang biasanya dipakai dalam seminar motivasi itu. Soalnya, begitu kamu mulai menulis untuk memenuhi ekspektasi orang lain, tulisanmu bisa berubah jadi semacam kue ulang tahun supermarket, yang rapi, standar, tapi rasanya seperti kardus. Padahal, kamu inginnya tulisanmu terasa seperti kue buatan rumah. Mungkin bentuknya penyok sedikit, tapi aroma dan rasanya bisa membuatmu bahkan tak melihat Lee Min Ho lewat. Yaiyalaaah, kamu di mana, dia di mana.

Ada lagi alasan penting kenapa fase “menulis untuk diri sendiri dulu” itu krusial, yaitu: ia menyingkirkan rasa takut. Kamu tahu rasa takut yang mana. Betul, rasa takut yang bikin jarimu ragu tiap mau mengetik kata “aku” di awal kalimat ketiga karena takut “serangan aku,” atau takut tidak memenuhi ekspektasi pembaca yang sudah mengingatkanmu dengan tulisan sebesar bilbor: “KAMI SUKANYA DRAMA RUMTANG!” Ketika kamu menulis dengan tujuan memuaskan pembaca imajiner—padahal belum tentu juga mereka membaca tulisanmu—kamu sama saja sedang berusaha menembak sasaran yang bergerak dengan mata tertutup.

Kalau sejak awal kita menulis sambil membayangkan komentar orang, spontanitas kita mati sebelum sempat lahir.

Dan bagian paling gurih dari menulis untuk diri sendiri adalah ini: kamu sebenarnya sedang menciptakan ruang aman untuk berkembang. Gaya menulismu, suaramu, dan keberanianmu perlu diizinkan untuk salah langkah, perlu dibiarkan untuk sembrono dulu. Semua itu butuh proses. Dan proses itu hanya bisa berlangsung ketika kamu menulis tanpa merasa berada di bawah todongan senjata.

Jadi, kalau suatu hari kamu duduk menatap layar kosong dan merasa ciut karena membayangkan ada dunia penuh pembaca yang menghakimi, ingatlah bahwa mereka hanya figuran dalam pikiranmu. Kamu bisa menyetop penampilan mereka kapan saja. “Tulislah dengan pintu tertutup, tulis ulanglah dengan pintu terbuka,” kata Stephen King di atas. Jadi, yang berhak hadir di ruang itu hanya kamu dan tulisanmu—paling tidak, sampai draf tulisanmu selesai. Setelah itu, baru deh, silakan saja kalau mau mengundang seluruh dunia untuk masuk. [MW]