3. Dilema Menulis Panjang di Dunia Serbapendek

“A good essay must draw its curtain around us, but it must be a curtain that shuts us in, not out.” — Virginia Woolf

Coba sekarang kita jujur-jujuran, deh. Kapan terakhir kali kamu membaca tulisan seribu kata sampai tuntas di medsos? Saya tebak: mungkin pas baca cerpen atau cerbung, atau pas kamu keasyikan baca thread drama gelud yang makin panjang makin absurd. Kalau bukan dua hal itu, kemungkinan besar perhatianmu sudah diculik oleh hal-hal yang lebih pendek, seperti teks meme dua baris, caption foto, promo diskon, kata-kata motivasi, atau status galau dengan jadi tiga emoji.

Karena itu, ketika seseorang memosting tulisan seribu kata saja, otakmu langsung protes, “Bos, ini abad keberapa emangnya?” Padahal, tulisan panjang itu bisa seperti mengobrol dari hati ke hati. Kalimatnya bisa punya ruang, argumennya bisa punya kedalaman. Sayangnya, audiens zaman sekarang baru ditawari membaca tulisan tujuh paragraf saja sudah mengeluh, “Puanjang amat, Maaang!”

Dilema ini mirip memasak sup lezat untuk orang yang maunya mi instan. Kita sudah hati-hati menyiapkan kaldu yang diracik dengan cermat, eh, dia justru memilih makanan yang tinggal seduh tiga menit langsung santap. Atau seperti ketika kita ingin mengajak dia jalan kaki melihat-lihat pemandangan, eh, dia maunya justru naik skuter listrik.

Mungkin inilah sebabnya banyak penulis memilih menaati algoritma ketimbang kata hati sendiri. Medsos menginginkan engagement, dan engagement lebih mudah datang dari sesuatu yang singkat. Lihat saja statistik rata-rata durasi baca. Mayoritas orang bertahan kurang dari lima belas detik. Lima belas detik, Bray! Itu bahkan lebih pendek daripada waktu yang dibutuhkan air untuk mendidih biar kita bisa nyeduh kopi.

Meski begitu, saya justru melihat ada sesuatu yang ironis. Saya kira, membaca tulisan panjang justru makin penting sekarang. Ketika dunia digital begitu berisik merebut perhatian, ketika opini muncul lebih cepat daripada fakta, tulisan yang tenang dan bernapas panjang menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. Ia seperti air jernih, yang tidak menawarkan sensasi apa-apa di awal, tetapi justru menyegarkan pikiran yang sudah terlalu lama dijejali minuman kaleng. Ia membantu kita menyisihkan waktu untuk berpikir jernih lagi, memberi kita jeda yang tidak diberikan arus scroll tanpa henti.

Dan “ruang” itulah yang sering kita butuhkan sekarang. Tulisan panjang mengajak kita duduk sebentar, menunda impuls untuk langsung bereaksi, dan mengizinkan otak melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan di era digital, yaitu mencermati. Kamu ingat momen ketika kamu akhirnya mematikan notifikasi sebentar, dan tiba-tiba merasakan keheningan yang menghilang dari duniamu selama ini? Nah, tulisan panjang itu seperti tombol “Mute” untuk jiwa. Tombol itu memang tidak dramatis, apalagi heroik, tetapi sangat efektif.

Tulisan panjang memberi ruang bagi pikiran untuk berjalan, bukan sekadar melompat dari satu notifikasi ke notifikasi lain.

Selain itu, tulisan panjang juga memberi ruang untuk kompleksitas. Kita toh tidak harus menyederhanakan dunia menjadi dua kalimat yang diakhiri dengan punchline. Kita bisa, kok, menjelajahi kemungkinan. Kita bisa memeriksa sisi lain suatu peristiwa dan membiarkan argumen berkembang seperti adonan roti yang dibuat dengan terigu berkualitas. Di dalamnya, ada kesempatan untuk mencermati, untuk ragu, bahkan untuk kontradiktif tanpa terlihat plin-plan. Ini sesuatu yang, maaf saja, mustahil kita dapatkan kalau format bacaan kita sehari-hari hanya konten prank atau judul berita yang membuat kita “meledak”.

Mungkin yang lebih penting adalah bahwa tulisan panjang memungkinkan kita menemukan diri sendiri, bukan diri yang ditentukan algoritma, bukan yang dipoles filter, tetapi yang muncul ketika pikiran diberi ruang bebas untuk berkeliaran. Ketika membaca tulisan panjang, mungkin di tengah paragraf kelima atau keenam, kamu tiba-tiba tersadar, “Oh, ternyata ini yang sebenarnya saya alami.” Nah, itu jelas hadiah kecil yang tidak bisa diberikan oleh caption 60 karakter.

Mulanya, saya ingin mengutip tulisan Ralph Waldo Emerson, Joan Didion, atau Goenawan Mohamad sebagai contoh, tapi saya urungkan. Kenapa? Karena saya sadar bahwa kebanyakan pembaca tulisan saya di grup Perawat Bahasa ini hidup di dunia yang ritmenya berbeda. Bagi mereka, baru mau membaca tulisan seribu kata saja rasanya seperti dipaksa ikut wajib militer dua tahun.

Emerson, Didion, dan GM jelas hidup di dunia yang berbeda dari keseharian pembaca digital. Mereka tidak hidup di tengah feed yang bergerak 200 km/jam, tetapi di wilayah di mana satu paragraf bisa menjadi meditasi kecil tentang hidup. Meminta generasi digital membaca mereka seperti menawarkan buku puisi kepada orang yang cuma mau memastikan promo bebas ongkir hari ini masih berlaku atau tidak.

Pembaca bukan menolak tulisan panjang; mereka menolak tulisan yang membosankan.

Lalu, bagaimana dengan kita—kamu dan saya—yang hidup di tengah gurita notifikasi dan rentang perhatian yang makin cekak? Apakah menulis esai populer seribu kata, misalnya, benar-benar ada nilainya? Kata saya, sih, “Iyes”. Enggak tahu kata Mang Sakim. Tetapi, caranya memang harus pakai siasat.

  • Pertama, saya perlu berdamai dengan kenyataan bahwa, mungkin pembaca bukannya tidak mau membaca tulisan panjang. Mereka hanya tidak mau membaca tulisan yang membosankan. Kalau pembaca nyerah di paragraf kedua, mungkin itu bukan salah mereka, tapi salah tulisan saya yang terlalu lelah untuk hidup.
  • Kedua, saya harus membuat tulisan panjang seperti obrolan, bukan seperti buku paket sekolah. Saya harus memberi pembaca alasan untuk duduk melalui humor ringan, contoh yang dekat dengan keseharian, atau suara personal yang terasa seperti teman curhat. Kalau saya menulis seperti robot yang sedang membacakan SOP, ya, pembaca pasti kabur ke meme kucing.
  • Ketiga, saya harus menjadikan panjang sebagai kekuatan. Tulisan singkat bisa mengundang tawa, tapi tulisan panjang memberi kesempatan untuk membuat pembaca memaknai sesuatu. Di sana ada ruangan untuk melihat konteks, menemukan lapisan, dan memancing renungan. Semua itu tidak bisa termuat dalam judul berita click bait.

Menulis seribu kata di era serbapendek bukan nekat. Itu keyakinan bahwa kedalaman masih punya peminat.

Dan saya merasa, menulis seribu kata di zaman serbapendek ini bukan tindakan nekat, kok. Ini justru tindakan penuh keyakinan. Saya, misalnya. Saya yakin bahwa ide saya layak diberi ruang. Saya yakin bahwa ada pembaca yang ingin membaca lebih dari sekadar punchline. Saya yakin bahwa kedalaman masih punya peminat.

Pembaca tulisan saya memang tidak banyak. Tetapi, siapa pun yang bertahan membacanya sampai selesai, merekalah yang saya cari. Mereka itulah orang-orang yang masih mau tinggal sedikit lebih lama, membuka tirai yang disebut Virginia Woolf dalam kutipan di atas, dan membiarkan diri terserap oleh ide yang kecil tapi menggugah.

Bagi saya, kalau saya bisa membuat satu orang saja benar-benar membaca tulisan saya sampai titik terakhir, itu sudah sebuah keberhasilan. Dan keberhasilan kecil seperti itu, dalam dunia yang panik diteror notifikasi, rasanya jauh lebih manis daripada seribu “like” yang asal sentuh doang. [MW]