38. Mencari Inspirasi di Sekitar Kita

“Inspiration exists, but it has to find you working.” — Pablo Picasso

Saya membayangkan berdiri di sebuah studio penuh cat minyak, lalu Picasso muncul sambil memainkan kuas dengan jarinya dan memandang saya seperti guru seni yang sudah bosan mendengar alasan. Tanpa basa-basi, dia bilang, “Inspirasi memang ada, Tong. Tapi dia cuma datang kalau kamu bekerja.” Dalam bayangan saya, dia bahkan menunjuk-nunjuk tumpukan kanvas sambil berkata, “Kalau kamu menunggu inspirasi nongol duluan, sampai dinosaurus balik pun belum tentu satu lukisan selesai.”

Dan anehnya, omongan kakek flamboyan dari Andalusia itu justru terdengar melegakan. Kalau begitu, pikir saya, inspirasi bukan makhluk langka yang hanya mendatangi para jenius bermahkota cahaya. Dia lebih seperti teman yang baik hati dan enggan mengganggu kalau kita sedang santai. Dia mau saja mampir ke rumah kita kapan pun, asalkan pintunya sedang terbuka dan penghuninya tidak sedang rebahan menunggu mukjizat.

Dulu saya mengira inspirasi itu semacam tamu kehormatan yang datang setelah saya tiga hari berpuasa dan mengheningkan cipta. Dia datang dengan jubah putih, dikelilingi cahaya, diiringi musik dramatis, lalu menghadiahkan ide brilian. Dan saya jadi rada tenang setelah mengetahui bahwa, ternyata saya banyak kawannya, ternyata banyak juga penulis yang mengira inspirasi seperti makhluk astral.

Nyatanya? Setelah membaca banyak pengakuan penulis dunia, saya menyimpulkan bahwa inspirasi itu ada di sekitar kita—di warung, di dapur, di angkot, bahkan di WAG wali murid yang kadang lebih dramatis daripada sinetron.

Inspirasi bukan makhluk langka yang turun dari langit; ia muncul ketika kita bekerja dan mau membuka mata pada hal-hal sepele.

Ambil contoh Haruki Murakami. Dalam wawancaranya, dia mengatakan bahwa ide biasanya muncul “secara tiba-tiba, tak terduga,” berupa hal-hal aneh yang nyelonong masuk kepalanya begitu saja. Ia bahkan pernah bilang bahwa awal mula A Wild Sheep Chase datang hal-hal absurd yang tiba-tiba muncul di kepalanya saat melihat gambar domba di poster bir. Menulis, bagi Murakami, adalah mengikuti keanehan itu dan melihat ke mana ia akan membawa cerita. Saya rasa ini kabar gembira bagi kita semua yang hidupnya penuh hal absurd. Artinya, peluang kita mendapatkan ide bagus cukup besar.

Agatha Christie bahkan lebih ekstrem. Dalam autobiografinya ia mengaku bahwa ide-ide terbaiknya muncul saat … mencuci piring. Ya, benar. Aktivitas yang bagi sebagian dari kita bikin males itu, bagi Christie justru melahirkan kisah pembunuhan berantai, jebakan psikologis, dan twist yang bikin pembaca megap-megap. Sepertinya dunia memang tidak adil. Kita mencuci piring cuma dapat tangan keriput, eh, dia malah dapat plot brilian.

Di Indonesia, contoh-contohnya tidak kalah menarik. Pramoedya Ananta Toer mendapatkan bahan penting untuk Tetralogi Buru dari cerita lisan, obrolan para tahanan, dan pengamatan sehari-hari kehidupan para tahanan di Pulau Buru. Tidak ada studio menulis dengan musik jazz pelan. Yang ada justru kondisi keras dan keterbatasan. Tapi dari situlah lahir karya-karya yang mengguncang sastra Indonesia.

Andrea Hirata pun begitu. Ide Laskar Pelangi tidak datang dari perjalanan eksotis ke Eropa, tetapi dari masa kecilnya di Belitung yang berisi persahabatan, sekolah reyot, dan guru-guru yang penuh cinta.

Sementara itu, dalam berbagai wawancara Eka Kurniawan mengatakan bahwa Cantik Itu Luka lahir dari gabungan dongeng masa kecil yang didengarnya dan sejarah kekerasan di Indonesia. Ternyata, untuk menggali ide besar, terkadang kita hanya perlu menengok ke belakang.

Ide cerita sering lahir bukan dari momen sakral, melainkan dari piring kotor, obrolan kampung, dan keanehan sehari-hari.

Dan kadang, inspirasi datang dari hal-hal kecil yang membuat kepala kita mendadak berkata, “Loh, kok gitu?” Neil Gaiman pernah mengatakan bahwa banyak idenya muncul dari “hal kecil yang tidak masuk akal” yang ia temui sehari-hari.

Membaca itu, saya pun ingat pernah mengalami versi murah-meriahnya ketika suatu hari mendengar seorang bapak berkata dengan sengit, “Ayam tetangga kalau masuk halaman saya lagi, saya laporin tuh ayam ke Pak RT.” Saya langsung membayangkan novel realisme-magis tentang kampung yang punya undang-undang tentang ayam.

Menariknya, inspirasi juga muncul di saat-saat paling membosankan. Charles Dickens adalah pejalan ekstrem yang rutin berjalan beberapa kilometer sehari karena, katanya, berjalan membuatnya menemukan alur cerita. Virginia Woolf mengaku dalam esai-esainya bahwa berjalan kaki membuat pikirannya terbuka. Ide-idenya datang bukan saat dia duduk serius di meja, melainkan saat bergerak. Begitu juga Tere Liye. Dia pernah mengatakan bahwa sebagian idenya muncul saat perjalanan—mungkin karena tidak ada yang bisa dilakukan selain berpikir. Otak manusia memang aneh. Dia sering kali bekerja paling giat justru saat kita tidak memaksanya bekerja.

Dan tentu saja, lingkungan sekitar selalu bisa menjadi sumber ide. Gabriel García Márquez menemukan ruh One Hundred Years of Solitude setelah mengingat kembali kampung halamannya, Aracataca—yang kemudian dia sulap menjadi Macondo—dalam perjalanan pulang dari Acapulco. Ernest Hemingway menemukan banyak ceritanya dari bar-bar kecil Paris dan Havana, tempat ia mengamati manusia dari jarak dekat. Dan Ayu Utami memanfaatkan segala kekacauan sosial-politik Jakarta sebagai sumber energi kreatif. Lingkungan sekitar kita sebenarnya sangat kaya dengan ide cerita. Kita saja yang terlalu sibuk nyekrol medsos sampai tidak melihatnya.

Selain lingkungan, kehidupan orang-orang di sekitar kita —yang tingkahnya kadang lebih teatrikal daripada drama Korea—juga merupakan tambang ide gratis. Jane Austen mendapatkan banyak idenya dari ruang tamu dan pesta kelas menengah Inggris. Ahmad Tohari menggali kehidupan orang-orang di Banyumas sebagai sumber moral dan kemanusiaan dalam karyanya. Intan Paramaditha menelisik tubuh, perempuan, dan relasi sosial sebagai landasan estetik dan politis. Jadi ya, kalau ada temanmu yang hidupnya penuh konflik, dokumentasikan saja diam-diam. Siapa tahu besok jadi bab pertama novel.

Tugas penulis bukan menunggu inspirasi datang, melainkan siap menangkapnya saat ia lewat tanpa permisi.

Dan setelah kita tahu bahwa sumber inspirasi ada di mana-mana, kita juga mesti sadar bahwa yang perlu kita lakukan untuk mendapatkan ide sebenarnya sederhana, yaitu: buka mata, buka telinga, dan biarkan hal-hal kecil itu menyelinap masuk.

Dan kalau semua itu masih belum memunculkan inspirasi juga, ya sudah, langkah terakhir cuma satu: segera rapikan meja kerjamu. Karena berdasarkan pengalaman saya, begitu meja rapi, tiba-tiba ide-ide berebutan muncul. Mungkin karena mereka kaget ketika melihat permukaan meja yang selama ini tertutup timbunan kertas, cangkir bekas kopi yang tiga hari belum dicuci, dan catatan lima premis yang sudah kedaluwarsa sejak dua bulan yang lalu. [MW]

Tulis Komentar