“Words make love with one another.” — André Breton
Kali pertama saya tahu bahwa Ernest Hemingway pernah bekerja di The Kansas City Star bukan dari buku biografi setebal bantal, tapi dari sebuah artikel pendek yang saya baca sambil menunggu pesanan kopi yang tak kunjung datang. Artikel itu menulis bahwa Hemingway diajari empat aturan sederhana: gunakan kalimat pendek, paragraf pendek, bahasa yang kuat, dan kalimat positif. Saya membacanya berulang-ulang, lalu membaca tulisan saya sendiri di laptop yang penuh metafor genit diselingi kata sifat yang caper habis-habisan. Rasanya seperti ada editor imajiner yang menoyor kepala saya sambil bilang, “Ini tulisan atau pawai agustusan, sih?”
Dalam wawancara dengan The Paris Review, Hemingway mengaku, “Itu aturan terbaik yang pernah saya pelajari untuk menulis. Saya tidak pernah melupakannya.” Dan memang, ia membuktikannya. Dari aturan sederhana itu lahirlah prosanya yang jernih, padat, tapi juga menyusup diam-diam, seperti angin dingin di tengah perjalanan malam mengendarai motor—pas gerimis, pas enggak pake jaket juga. Hemingway menulis seolah-olah dia tahu betul bahwa bahasa yang sederhana bisa menghantam lebih keras daripada bahasa yang berputar-putar turun naik seperti ontang-anting.
Prinsip kejelasan tulisan yang diajarkan redaktur surat kabar itu ternyata berakar pada hal yang lebih mendasar, yaitu kesadaran bahwa setiap kata mengandung energi yang membentuk pengalaman pembaca. Kalimat yang baik bukan sekadar jernih, melainkan juga hidup, karena ia membangun ruang, suasana, juga emosi. Dari sanalah muncul pemahaman saya bahwa, selain sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu, bahasa juga alat untuk menghadirkan sesuatu.
Bahasa dalam fiksi bukan sekadar wadah cerita; ia adalah tanah tempat dunia itu berdiri dan udara tempatnya bernapas.
Karena itu, dalam penulisan fiksi, saya pikir bahasa bukan hanya wadah cerita. Ia adalah tanah tempat dunia cerita itu berdiri sekaligus udara tempatnya bernapas. Jadi, sebaiknya kita tidak menganggap diksi sekadar pilihan kata, karena ia justru menentukan atmosfer seluruh lanskap cerita. Dalam kalimat yang tepat, kata-kata bisa menghidupkan dunia. Pembaca bisa mencium petrikor, mendengar langkah kaki yang tertahan, atau merasakan udara dari tempat yang belum pernah mereka datangi—yang bahkan belum pernah ada sebelum seseorang menuliskannya.
Ursula K. Le Guin pernah menulis, “Kata-kata adalah peristiwa; ia melakukan sesuatu, mengubah sesuatu.” Saya suka kalimat itu. Rasanya seperti pengingat bahwa setiap kata yang saya pilih adalah semacam saklar kecil. Sekali saya menyalakannya, dunia rekaan di kepala pembaca ikut hidup. Kalau saya menulis “hutan berbisik,” misalnya, saya ingin pembaca tidak sekadar tahu ada hutan; saya ingin mereka benar-benar mendengarnya berbisik.
Pernah suatu kali, ketika saya mencoba menulis cerpen fantasi, seorang mentor bertanya: “Kenapa langit di cerpenmu warnanya toska?” Saya bilang, takut pembaca bingung kalau terlalu aneh. Dia mengangguk bijak mendengar jawaban saya, lalu berkata, “Padahal tugas penulis justru bikin yang aneh jadi bisa dipercaya.”
Tugas penulis bukan menjelaskan dunia, melainkan membuat yang aneh terasa masuk akal dan bisa dipercaya.
Saya merasa disadarkan tiba-tiba. Benar juga, ya. Kalau saya menulis bahwa langitnya “ungu seperti terong,” pembaca pasti akan menerima juga, asalkan saya konsisten membangun suasana itu sepanjang cerita. Dalam hal ini, kata-kata menjadi arsitek keyakinan. Sekali saya memilih sebuah warna, sebuah nada, atau sebuah suasana, seaneh apa pun mulanya, jika seluruh dunia tulisan konsisten berputar di sekitarnya, pembaca akan percaya.
Dia juga mengajari saya bahwa cara sebuah kata digambarkan bisa mengubah suasana cerita. Kata desa, misalnya, bisa terasa hangat atau mencekam, bergantung pada bagaimana saya menciptakan atmosfernya. Desa di kaki bukit terdengar damai, tapi desa yang menatap gunung berapi dengan waswas langsung menimbulkan ketegangan diam-diam. Di sini terlihat bahwa dua kalimat berbeda menciptakan dua atmosfer berbeda menciptakan dua dunia yang berbeda dari satu kata.
Sebagai orang yang sedang belajar menulis, saya sering lupa hal itu. Saya sering terlalu sibuk memikirkan apa yang terjadi dalam cerita—adegan, konflik, resolusi—dan lupa menanyakan bagaimana rasanya berada di sana. Padahal, pembaca tidak hanya ingin tahu apa yang terjadi, mereka ingin menyaksikan peristiwa itu sendiri dan bagaimana para tokohnya menghadapi peristiwa itu. Mereka ingin berada di sana bersama para tokohnya, menghirup udaranya, mendengar napasnya, merasakan tekad dan ketakutannya.
Ketika kata-kata berhenti menjelaskan dan mulai mengundang, teks berubah menjadi dunia yang bisa dihuni pembaca.
Karena itu, saya sering menasihati diri sendiri: jangan menulis untuk menjelaskan, menulislah untuk mengundang. Biarkan kata-kata menjadi semacam lampu senter yang menuntun perjalanan pembaca, bukan sekedar peta dengan catatan kronologis peristiwa. Saya yakin, begitu bahasa berhenti menjelaskan dan mulai menciptakan atmosfer dunianya sendiri, tulisan pun berhenti menjadi teks. Ia berubah menjadi dunia yang bisa dihuni.
Dan bicara soal dunia yang bisa dihuni, saya cuma berharap dunia itu tidak membuat pembaca tersesat seperti wisatawan yang salah turun halte. Idealnya, mereka masuk dengan tenang, menikmati suasana dan peristiwanya, lalu pulang dengan perasaan, “Eh, kok masih kebayang, ya?” Kalau ternyata ada yang begitu terhanyut sampai mengira aroma petrikor di cerita saya benar-benar muncul di sekitar mereka, itu mah efek samping yang membanggakan. Toh, setiap penulis berhak sesekali merasa jadi pesulap, meski triknya cuma mengandalkan kalimat plus keberuntungan karena pembaca sedang dalam mood gampang percaya. [MW]




