34. Bergabung dengan Komunitas Penulis

“Writers have to get together. It’s part of our work—to talk, to exchange, to share the fire.” — Natalie Goldberg

Beberapa penulis besar berkali-kali mengingatkan bahwa menulis, pada dasarnya, adalah pekerjaan sunyi yang mengharuskan seseorang menenggelamkan diri ke dalam ruang batinnya. Stephen King dalam On Writing menegaskan bahwa draf pertama sebaiknya ditulis “dengan pintu tertutup,” agar penulis bisa bergulat secara jujur dengan gagasannya. Ernest Hemingway, dalam pidato Nobelnya, bahkan lebih gamblang: “Writing, at its best, is a lonely life,” katanya. Dan Franz Kafka pernah mengungkapkan bahwa menulis adalah “kesendirian mutlak, sebuah penurunan ke jurang dingin dalam diri.” Tiga suara ini—King, Hemingway, dan Kafka—menggambarkan kegiatan menulis sebagai ritual sunyi, yang menuntut keberanian untuk masuk ke ruang yang hanya dihuni diri sendiri.

Namun, sebagian penulis besar juga mengakui bahwa kesunyian saja tidak cukup. Natalie Goldberg mengingatkan bahwa “penulis perlu berkumpul… untuk berbagi api,” karena kreativitas kerap menyala ketika ide dipantulkan kepada orang lain. Ursula K. Le Guin melihat hubungan antarmanusia sebagai inti dari proses literer: kita membaca dan menulis untuk memahami diri sendiri melalui pengalaman orang lain—sebuah argumen yang secara alami membuka ruang bagi komunitas. Anne Lamott juga menegaskan pentingnya dukungan sosial ketika ia menulis, “Alone, we are doomed… but we’ve been saved by the people around us.” Maka, setelah bergulat dengan kesunyian di ruang batin, sebagian penulis mungkin perlu juga membuka pintu dan menemukan rekan seperjalanan.

Menulis memang pekerjaan sunyi, tetapi api kreativitas sering kali justru menyala ketika ia dipantulkan kepada orang lain.

Ucapan Goldberg, Le Guin, dan Lamott di atas seperti menepuk bahu seorang penulis dan berkata, “Hei, kamu tidak perlu jadi lone wolf terus. Pendekar kata juga bisa punya teman, kok.” Menulis memang pekerjaan sunyi, tetapi api kreativitas bisa makin menyala saat kita bertemu dengan orang lain yang sama-sama mencintai kata-kata. Kalau kamu pernah duduk sendirian menatap kursor yang berkedip seperti lampu darurat mobil mogok, percayalah, banyak penulis lain yang sedang mengalami hal yang sama. Dan sering kali, komunitas penulis adalah tempat kamu menemukan jalan keluar ketika terjebak blunder saat menulis.

Salah satu alasan paling kuat untuk bergabung dengan komunitas adalah kebutuhan manusiawi untuk merasa terhubung. Kamu boleh punya meja kerja yang nyaman, playlist pengantar menulis paling epik, dan stok kopi yang bisa bikin barista iri, tetapi proses menulis—terlebih setelah tulisan selesai—bisa terasa seperti mengobrol dengan tembok. Di komunitas, kamu akan menemukan orang-orang yang mengerti persis bagaimana rasanya menyusun paragraf yang terus menolak rapi atau merasa bangga setelah menemukan penyelesaian konflik yang tak terduga.

Komunitas penulis yang sehat bukan ruang kompetitif yang bikin kamu minder. Ia lebih mirip warung kopi tempat orang-orang saling bertukar cerita tanpa formalitas berlebihan. Kamu bisa bertanya hal-hal kecil—misalnya, “Kenapa omongan tokohku seperti politisi yang sedang konferensi pers, ya?”—dan tidak ada yang akan menganggap itu pertanyaan bodoh. Mereka mungkin malah merespons dengan kisah konyol tentang tokoh rekaan mereka sendiri yang sulit diatur. Percakapan semacam ini membuat proses menulis menjadi lebih ringan.

Komunitas penulis yang sehat bukan arena lomba, melainkan warung kopi tempat kata-kata boleh salah, diperbaiki, lalu ditertawakan bersama.

Menurut saya, manfaat terbesar komunitas adalah karena kita bisa bertemu dengan para penulis dengan berbagai tingkat pengalaman, dari yang sudah menerbitkan belasan novel sampai yang baru belajar membuat premis. Keduanya berharga. Dari yang berpengalaman, kita bisa memperoleh wawasan; dari yang pemula kita bisa mendapat suntikan semangat. Neil Gaiman pernah berkata tentang proses menulis: semua orang tersesat, hanya saja ada yang lebih fasih menemukan jalan pulang. Nah, komunitas itu seperti rombongan pendaki yang saling bersiul supaya tidak ada yang hilang ketika turun.

Komunitas juga tempat kamu belajar menerima kritik tanpa drama. Masukan dari sesama penulis biasanya datang dari keinginan membantu, bukan dari niat buruk untuk menjatuhkan harga dirimu. Terlebih lagi, dalam komunitas dengan ikatan kekeluargaan yang kuat, kritik yang tajam pun sering kali disampaikan dengan jenaka. Misalnya, “Paragrafmu bagus, sih, tapi pembaca mungkin mesti minum obat sakit kepala setelah membacanya.” Kritik seperti itu tak akan menurunkan harga dirimu, tetapi justru membuatmu sadar bahwa revisi bukanlah hukuman, itu bagian dari pertumbuhan kemampuanmu menulis.

Walau begitu, komunitas penulis tidak hanya soal memperbaiki naskah. Ia juga menjaga bara semangat—karena begitu banyak hal yang bisa mengalihkanmu dari minat dan semangat menulis. Pada hari-hari ketika kamu benar-benar malas membuka laptop, mungkin kamu malah melihat teman sekomunitas membagikan progres tulisannya—meski cuma beberapa puluh kata—dan itu membuatmu ingin ikut bergerak juga. Ray Bradbury pernah bilang bahwa kuantitas melahirkan kualitas. Makin sering kamu menulis, makin terasah gaya dan intuisi kreatifmu. Dan komunitas membantu memastikan kamu terus bergerak. Meskipun pergerakan itu sedikit saja, sering kali itu sudah cukup.

Ada juga manfaat yang tak terduga: peluang kolaborasi, rekomendasi lomba, kesempatan ikut proyek antologi, bahkan pertemanan dan hubungan yang tumbuh di luar urusan menulis. Saya pernah melihat dua orang yang awalnya hanya saling komentar di grup, dan setahun kemudian mereka menerbitkan buku duet. Ada juga yang mulanya cuma berbalas komentar iseng di grup, lama-lama, eh, malah jadian.

Kita boleh menulis sendirian, tetapi perjalanan menulis tidak selalu harus dijalani sendirian.

Menurut saya, bergabung dengan komunitas penulis adalah cara sederhana untuk mengingat bahwa perjalanan menulis tidak (selalu) harus kamu jalani sendirian. Dan ketika kamu bergabung, tak perlu merasa canggung atau takut dinilai. Semua orang di sana pun—termasuk yang sudah menerbitkan belasan novel—sedang belajar, sedang berusaha, sedang bertahan dari dorongan untuk balik kanan dari dunia tulis-menulis.

Jadi, kalau selama ini menulis terasa seperti pertarungan soliter yang melelahkan—semacam duel sunyi antara kamu dan kursor yang kedipannya makin lama makin menyebalkan—mungkin kamu memang butuh teman seperjalanan.

Coba intip komunitas menulis di kotamu, atau bergabunglah ke grup daring, tempat orang-orang debat serius hanya karena satu kata “namun” yang diletakkan di tengah kalimat. Siapa tahu, obrolan santai di sana justru bikin kemampuan menulismu naik level, atau minimal bikin kamu merasa tidak sendirian menghadapi kalimat yang bandel.

Dan kalau suatu hari kamu mendapati dirimu tertawa bareng sekelompok manusia aneh yang sama-sama mencintai kata-kata, kamu akan paham maksud Goldberg bahwa api menulis tak menyala sendirian.

Lagi pula, siapa lagi yang bisa menerima curhatanmu tentang dilema memilih POV selain komunitas penulis? Mereka mungkin tidak selalu sepakat, tapi kalau kamu bisa bersahabat meski berbeda soal penggunaan tanda koma, berarti kamu sudah menemukan geng yang tepat. [MW]

Tulis Komentar