“The characters will tell you what they need if you listen closely enough.” — Elizabeth Strout
Ada satu saran aneh yang Sakim baca di bukunya A.S. Laksana, yaitu wawancarailah tokoh dalam ceritamu untuk mengenalnya lebih dekat. Dia membayangkannya seperti adegan film: seorang penulis duduk di depan mesin tik, lalu tiba-tiba muncul bayangan tokoh fiktifnya di kursi seberang mejanya. Sebelum sempat si penulis bertanya, tokoh fiktifnya sudah mengeluh duluan, “Maaf, kenapa saya harus mati di bab tiga?” Sakim tertawa ketika membayangkannya, sampai suatu waktu tanpa sadar dia melakukannya juga.
Tentu saja, Sakim tidak sampai menyuguhkan kopi untuk tokoh fiktifnya. Tapi dia sering mengobrol secara imajiner dengan tokoh yang sedang dia tulis. Kadang dia memintanya menjelaskan alasan keputusannya; kadang menanyakan pendapatnya tentang nilai-nilai yang dia yakini; kadang menegurnya karena terlalu dramatis. Dan ada saat-saat ketika tokohnya justru membantah dengan nada yang tidak dia duga sama sekali, dan dia sadar bahwa tokoh cerita bukan boneka kata-kata. Mereka ternyata hidup.
Tokoh cerita bukan boneka kata-kata; ketika mereka mulai membantah, di situlah cerita benar-benar hidup.
Banyak penulis mengakui bahwa tokoh cerita terkadang lebih keras kepala daripada penulisnya. Neil Gaiman pernah mengatakan bahwa tokoh-tokohnya sering membuat keputusan sendiri, dan tugasnya hanyalah mengikuti mereka. Stephen King bahkan menegaskan bahwa ia tidak pernah memaksa tokohnya melakukan sesuatu yang tidak “sesuai dengan sifatnya”. Para tokoh itu punya kehendak bebas. Setidaknya, lebih bebas daripada Sakim yang masih harus membayar angsuran motor tiap bulan.
Dia sempat mengira itu semua sugesti saja. Namun, makin lama menulis, makin dia paham bahwa mengobrol dengan tokoh sendiri adalah salah satu cara untuk membuat mereka terasa nyata. Ketika bertanya kepada tokohnya, “Kamu yakin mau melakukan itu?”, sebenarnya Sakim sedang memeriksa apakah tindakan itu sesuai dengan motivasi dan luka batinnya. Jika tidak, tokoh itu akan diam saja—sudah didiamkan pasangan, didiamkan tokoh sendiri pula—dan cerita pun mandek. Justru ketika tokoh mulai “menjawab”, barulah cerita mengalir.
Kadang Sakim bertemu dengan tokoh yang ngambekan. Dia pernah menggerutu pada tokohnya yang enggan jujur di adegan penting. “Tolong, kamu bisa jujur sedikit tidak?” Tokohnya malah berkata, “Tidak. Saya masih ingin ngedrama dulu.” Pada akhirnya, Sakim harus menunggu sampai dia siap. Dan itu bisa berarti dia harus memperbaiki beberapa adegan sebelumnya agar emosinya masuk akal. Ternyata, tokoh yang cerewet lebih mudah dihadapi daripada tokoh yang sedang ngambek.
Bertanya kepada tokoh sendiri sering kali bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk menguji apakah luka batin dan motivasinya sungguh masuk akal.
Sebagian penulis memiliki teknik unik untuk “mengundang” tokoh ke dalam percakapan. Ada yang menulis jurnal dari sudut pandang tokohnya, ada yang berjalan-jalan sambil memikirkan bagaimana tokoh itu merespons berbagai peristiwa di dunia nyata, ada juga yang menulis dialog panjang yang tidak akan masuk ke cerita, hanya untuk memahami dinamika emosional antartokoh. Dia sendiri lebih sering mengobrol dengan tokohnya seperti nge-chat teman curhat. Bedanya, teman curhat yang ini tidak pernah menjawab dengan stiker.
Yang menarik, berbicara dengan tokoh tidak hanya membuat cerita lebih terasa nyata. Dalam banyak kasus, obrolan itu bisa membuat kita lebih jujur sebagai penulis. Tokoh sering kali menunjukkan sisi diri kita yang tidak ingin kita akui. Ketakutan mereka, kebiasaan buruk mereka, dan keputusan impulsif mereka, sering kali berasal dari tempat yang sama dengan sumber kekacauan kita sendiri. Tokoh yang baik bukan hanya tokoh di halaman; terkadang mereka adalah cermin yang memantulkan wajah kita sendiri, meski kita berlagak tidak mengenalnya.
Dan, ya, mengobrol dengan tokoh itu terkadang lucu juga. Ada hari ketika Sakim merasa seperti konselor pernikahan antara dua tokoh yang terus bertengkar. Ada hari ketika dia ingin memarahi tokoh antagonisnya yang terlalu bersemangat menghancurkan hidup orang lain. Ada juga hari ketika dia ingin memeluk tokoh protagonisnya karena hidupnya terlalu pedih—yang tentu akan terlihat sangat aneh kalau dia lakukan di kafe.
Namun, perlahan-lahan Sakim membuktikan saran Pak Sulak, bahwa obrolan itulah yang membuat tokoh cerita terasa hidup di alam nyata. Tokoh menjadi bukan sekadar alat untuk menggerakkan plot. Mereka adalah makhluk imajiner yang butuh didengarkan, bahkan ketika mereka rewel dan menjengkelkan. Jika kita memaksakan kehendak tanpa mempertimbangkan watak dan kondisi mereka, cerita menjadi kaku. Tapi jika kita membiarkan mereka “berbicara”, cerita sering kali mengalir mengikuti jalannya sendiri.
Tokoh fiksi adalah makhluk imajiner yang butuh didengarkan, bahkan ketika mereka rewel dan menjengkelkan.
Alakulihal, berbicara dengan tokoh bukan pekerjaan aneh yang hanya dilakukan oleh penulis eksentrik. Itu adalah seni mendengarkan yang mesti dimiliki dan diasah oleh penulis. Penulis mesti terbiasa mendengarkan motivasi yang samar, ketakutan yang belum terucap, atau keinginan mereka yang belum dia sadari pada awalnya. Ketika penulis benar-benar mendengarkan tokohnya, dia tidak hanya menulis cerita, dia menyaksikan bagaimana cerita dan tokohnya tumbuh.
Jadi, jika suatu hari kamu merasa tokohmu mulai berbicara balik kepadamu, jangan panik dulu. Itu bukan hantu. Itu tanda kamu sedang menulis cerita dengan benar. [MW]




