27. Belajar dari Semangat Jomba Saat Ditolak

“I love my rejection slips. They show me I try.” — Sylvia Plath

Tidak banyak penulis yang bisa terdengar seenteng Sylvia Plath ketika bicara soal penolakan. Dia malah menanggapinya dengan gaya seakan-akan itu sebuah kehormatan. Ucapannya di atas juga mengandung sesuatu yang sering kita lupakan, yaitu bahwa ditolak berarti kita sudah mencoba. Kita sudah berusaha. Kita mengirimkan sesuatu ke dunia, lalu dunia menjawab dengan “Tidak.”

Memang pahit, tapi itu tetap sebuah interaksi. Dan untuk sebagian orang, itu lebih baik daripada dunia diam saja karena mereka memang tidak pernah mengirimkan apa-apa untuk ditanggapi.

Ditolak berarti kamu sudah berani mengetuk pintu dunia meski dunia menjawab “Tidak.”

Masalahnya, penolakan sering datang dengan paket tambahan. Ada rasa malu, ada rasa tidak mampu, sampai-sampai kita merasa lebih bloon daripada penjahat kemanusiaan yang jadi presiden. Padahal, kalau kita melihat sejarah kepenulisan sedikit saja, banyak penulis hebat justru bersahabat akrab dengan penolakan.

Stephen King pernah menancapkan puluhan surat penolakan di paku besar sampai paku itu tidak muat menampungnya. Dan contoh yang sekarang sudah menjadi klasik adalah J.K. Rowling, yang ditolak oleh belasan penerbit sebelum Harry Potter akhirnya menemukan rumahnya.

Bukan cuma dialami dua orang itu, penolakan sudah seperti ritual inisiasi bagi para penulis besar dunia.

  • Agatha Christie harus menghadapi beberapa kali penolakan sebelum The Mysterious Affair at Styles akhirnya terbit pada 1920—padahal sekarang namanya jadi sinonim dengan cerita misteri kelas dunia.
  • George Orwell juga mengalami nasib serupa. Animal Farm ditolak oleh sejumlah penerbit, termasuk Faber & Faber, yang bahkan mengembalikan naskahnya lewat surat resmi dari T.S. Eliot—yang waktu itu menjabat sebagai editor sekaligus direktur di perusahaan tersebut.
  • James Joyce pun tidak langsung dianggap genius. Dubliners ditolak berulang-ulang dan baru diterbitkan setelah melewati drama pembatalan.

Jadi, kalau naskah kamu “dikembalikan baik-baik” oleh penerbit, kamu justru sedang menapaki jejak para legenda meskipun mungkin cuma versi low budget-nya.

Setiap surat penolakan adalah jejak bahwa kamu tetap mencoba ketika orang lain memilih diam.

Penulis Indonesia pun tidak luput dari perjalanan berliku meski bentuknya berbeda-beda.

  • Andrea Hirata pernah bercerita bahwa Laskar Pelangi sempat kesulitan menemukan penerbit sebelum akhirnya berlabuh di Bentang.
  • Tere Liye juga pernah mengungkap dalam berbagai wawancara bahwa beberapa naskah awalnya—termasuk Hafalan Shalat Delisa—pernah ditolak penerbit.
  • Ahmad Tohari menghadapi tantangan yang lain lagi. Ronggeng Dukuh Paruk mengalami tekanan editorial dan penyensoran pada masa Orde Baru karena dianggap terlalu sensitif, membuat proses penerbitannya jauh dari mulus.

Dengan kata lain, di dunia kepenulisan, ditolak itu bukan tanda kamu buruk. Itu tanda kamu sedang berada di jalur yang sama dengan orang-orang yang akhirnya diingat.

Jadi, jika ditolak adalah proses perpeloncoan bagi para penulis besar, mengapa kita menganggapnya sebagai kiamat? Penolakan itu seperti pelatih olahraga yang nada suaranya menggelegar. Ia berteriak, “Lagi!”, “Ulang!” atau “Kamu bisa lebih baik!” Meski tidak enak didengar, sebenarnya ia sedang mendorong kita menjadi penulis yang lebih kuat, atau minimal tidak rapuh ketika membaca email balasan yang diawali kalimat maut: Terima kasih atas kiriman naskah Anda, namun…

Reaksi pertama boleh ambruk, tapi bangkit lagi adalah pilihan yang membuktikan keyakinanmu pada tulisan sendiri.

Meskipun demikian, menjaga semangat tidak berarti kita harus berpura-pura tidak sedih. Silakan kecewa. Silakan rebahan menatap langit-langit sambil memikirkan apakah sebaiknya kembali dagang batagor saja. Tapi setelah itu, bangun lagi.

Sering kali, penolakan justru memaksa kita menempa ulang keyakinan terhadap tulisan kita sendiri. Jika kita terus kembali ke meja tulis setelah ditolak, itu berarti kita percaya pada karya yang sedang kita bangun, bahkan ketika orang lain belum melihat nilainya.

Di sisi lain, penolakan bisa menjadi alat ukur yang aneh tapi berguna: ia menunjukkan bahwa kita sedang melangkah ke luar zona nyaman. Penulis yang tidak pernah ditolak, kalau bukan penulis sakti mandraguna, mungkin adalah penulis yang tidak pernah mengirimkan tulisan apa-apa.

Dan penolakan tidak hanya berlaku dalam dunia tulis-menulis. Banyak seniman besar juga mengalami hal serupa. Tak ada yang suka lukisan Vincent van Gogh karena sapuannya dianggap kasar. Akibatnya, dia hanya berhasil menjual satu lukisan selama hidupnya dan itu pun dibeli oleh saudaranya sendiri. Walt Disney juga pernah dipecat karena dianggap kurang imajinatif.

Penolakan tidak otomatis berarti kita tidak berbakat. Terkadang ia hanya berarti dunia butuh waktu sedikit lebih lama untuk menyadari betapa berharganya apa yang kita tawarkan.

Tentu saja, menghadapi penolakan tidak bisa hanya bermodal filosofi. Kita butuh strategi praktis. Salah satunya: buatlah sebuah ritual after-rejection. Stephen King punya paku, kamu bisa punya sesuatu yang lebih santun, misalnya folder bernama “Cerpen-Cerpen yang Bagus Bener Tapi Hanjakal Ditolak, Eung”.

Bisa juga, setiap kali kamu dapat email penolakan, kamu traktir diri sendiri dengan es krim kecil—kecil aja, ya, jangan sampai nanti kamu ditolak juga sama timbangan. Ritual seperti itu mengubah penolakan dari musibah menjadi hal rutin yang bisa kamu hadapi tanpa drama.

Sering kali bukan kualitas tulisannya yang rendah, hanya momen dan selera yang belum berjodoh.

Dan ingat, penolakan sering kali bukan karena kualitas karya. Sering kali itu karena pertimbangan lain, seperti:

  • kecocokan momen,
  • selera editor atau pasar, atau
  • kebutuhan penerbit.

Jadi, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa tulisanmu buruk. Tarik napas, baca kembali tulisanmu, lalu perbaiki yang bisa diperbaiki. Dunia ini luas, Bray. Email juga gratis. Kirim lagi aja ke tempat lain setelah diperbaiki.

Pada akhirnya, jadikanlah menjaga semangat saat ditolak semacam latihan ketabahan. Seperti jomlo bahagia yang tetap bersemangat nembak gebetan karena sudah punya ilmu kebal ditolak, kita tidak bisa mengendalikan siapa yang menerima atau menolak tulisan kita, tetapi kita bisa memilih untuk terus menulis.

Dan seperti kata Plath, setiap surat penolakan adalah bukti bahwa kita sudah berusaha. Karena itu, teruslah berusaha. Teruslah menulis. Teruslah menancapkan surat-surat penolakan di paku. Tapi kalau bisa sih, jangan sampai perlu paku tambahan, Mar! [MW]

Tulis Komentar