“Criticism may not be agreeable, but it is necessary. It fulfils the same function as pain in the human body.” — Winston S. Churchill
Manusia memang punya watak aneh. Mereka bisa menerima pujian lima paragraf dan langsung merasa siap menulis seratus novel lagi, tapi satu kalimat kritik langsung membuatnya ingin menjual laptop dan mencalonkan diri jadi presiden. Ada semacam tombol sensitif di dalam dada mereka yang seolah-olah berkata, “Jangan menyenggol tulisan saya. Itu bagian diri saya yang paling rapuh.”
Ketika seseorang memberi komentar atas tulisan saya, misalnya, jantung saya mendadak berubah jadi sepiker sound horeg. Entah kenapa, kritik—bahkan yang paling lembut—kadang terasa seperti seseorang membuka kamar saya tanpa mengetuk, lalu melihat tumpukan baju kotor di mana-mana, dan berkomentar, “Wah, kayak pasar malam nih.” Meski komentarnya benar, tetap saja bikin risih.
Untuk menghadapi kritik ini saya mengingat baik-baik nasihat Neil Gaiman. Dalam sebuah wawancara dia bilang, “Ketika seseorang mengkritik karyamu, mereka hampir selalu benar bahwa ada yang tidak beres. Tapi ketika mereka mencoba memberi tahu cara memperbaikinya, mereka hampir selalu salah.”
Saran itu terdengar seperti kode cheat penting bagi penulis dalam menghadapi kritik: dengarkan kritiknya, bukan solusinya. Soalnya, konon yang satu lahir dari pengamatan ketika membaca, sedangkan yang lain terkadang lahir dari ego yang sok ingin membantu.
Dengarkan kritiknya, bukan saran perbaikannya. Yang satu muncul dari pembacaan, yang lain sering kali dari ego.
Dalam Bird by Bird, Anne Lamott bilang bahwa draf pertama itu selalu berantakan. Saya pikir, bukan cuma draf pertama yang selalu berantakan, reaksi pertama kita terhadap kritik juga begitu.
Kali pertama mendapat kritik, kita jadi defensif dan emosional. Terkadang, kita sampai ingin menutup semua akses komunikasi lalu tidur tiga jam untuk memprosesnya. Nah, ini yang lebih kita butuhkan, yaitu jarak. Biasanya, setelah beberapa waktu dan badai kecil itu lewat, barulah kita bisa menilai kritik dengan kepala jernih dan sikap lebih dewasa.
Tentu saja, menerima kritik dengan hati terbuka bukan berarti menelan mentah-mentah semua komentar. Ada kritik yang bergizi, ada yang cuma bumbu pedas tanpa daging, ada juga yang sebenarnya sedang memproyeksikan masalah pribadi si pengkritik. Triknya adalah dengan memilah. Kritik yang baik biasanya membuatmu berpikir, bukan malah pingsan. Dan yang paling jelas, kritik yang baik tetap menghormatimu sebagai manusia.
Kritik yang baik memberi arah tanpa membuatmu tercekik. Ia tetap menghormatimu sebagai manusia.
Kadang saya menemukan penulis yang menolak kritik dengan alasan “gaya saya memang begini.” Boleh saja, sih, tapi jangan sampai itu jadi tameng untuk mempertahankan kekurangan tulisanmu. Anggap saja kritik itu seperti vitamin. Memang tidak semuanya enak, tapi kalau dosisnya pas, enak tidak enak, ia bisa bikin tubuhmu makin sehat.
Kuncinya adalah tidak menolak mentah-mentah, tidak juga langsung menerimanya, tetapi berusaha mengelolanya. Kalau kamu menerima semua kritik, tulisanmu bisa hilang suara uniknya. Tapi kalau kamu menolak semuanya, tulisanmu bisa mandek seperti lift yang selalu macet di lantai tiga, padahal kamu ingin ke lantai tujuh belas.
Ego juga sering muncul lebih dulu ketika menerima kritik. Berdasarkan pengalaman pribadi, kritik paling menyakitkan datang dari orang yang saya anggap tulisannya biasa-biasa saja, atau bahkan orang yang saya anggap tidak bisa menulis. Saya seolah mau bilang, “Ck, kayak tulisan lo bagus aja.”
Padahal, bisa jadi di sana saya malah bisa menemukan kritik yang jujur. Kalau orang yang tulisannya biasa-biasa saja—atau tidak bisa menulis—mampu melihat kekurangan tulisan saya, kenapa saya harus keras kepala?
Jika orang yang tak bisa menulis saja bisa melihat celah dalam tulisanmu, mungkin memang ada yang perlu dibenahi.
Memang, adakalanya saya merasa setiap komentar dari mereka seperti serangan personal. Tapi setelah beberapa waktu, saya sadar bahwa yang mereka kritik itu tulisan saya, bukan diri saya. Tulisan itu sesuatu yang bisa dipoles lecet-lecetnya. Diri saya tak perlu ikut merasa sakit hanya karena satu paragraf dikuliti sampai kelihatan tulangnya.
Kritik yang tidak terlalu terasa menyakitkan biasanya yang disampaikan dengan bumbu humor. Pernah seorang teman berkomentar, “Bagian ini bagus, sih … tapi lebih bagus lagi kalau dibuang.” Itu saja. Singkat, tapi dalam setengah detik langsung merusak mood saya.
Namun, setelah saya baca ulang tulisan saya, ternyata dia benar. Paragraf yang dia sebut itu seperti puzzle yang saya susun sambil mengantuk.
Menurut saya, yang membuat kritik justru penting adalah karena ia berasal dari perspektif yang berbeda. Kegiatan menulis membuat kita terlalu dekat dengan pikiran sendiri. Itu ibarat kita menonton film dengan sebelah mata tertutup. Akibatnya, ada bagian-bagian yang hilang. Orang lain bisa melihat gundukan batu, padahal kita melihatnya permadani. Mereka bisa menunjukkan polisi buncit tidur, padahal kita melihatnya jalan rata.
Yang membuat kritik justru penting adalah karena ia berasal dari perspektif yang berbeda.
Disadari atau tidak, menerima kritik itu melatih kerendahan hati. Kita tidak perlu menyukai semua kritik, tapi kita tetap bisa belajar darinya. Kita tidak perlu selalu setuju, tapi kita bisa mempertimbangkannya. Yang penting adalah membuka ruang kecil dalam diri untuk berkata, “Oke, mungkin memang ada yang bisa diperbaiki.” Kalau hati kita cukup lega untuk melakukan itu, bukan hanya tulisan kita yang tumbuh, kita juga bisa menjadi manusia berhati luwes.
Karena itu, kalau suatu hari ada kritik yang bikin kamu pengen pindah ke Mars, tarik napas dulu. Jangan buru-buru ngambek, apalagi langsung melecehkan si pengkritik. Dengarkan, pilah, pilih, olah. Kalau ternyata kritik itu benar? Ya sudah, anggap saja itu upgrade gratis buat tulisanmu. Toh, kalau penulis besar saja bisa menerima kritik, masa kamu enggak? “Shombong amat,” kata Mandra. [MW]




