21. Menghadapi Hari Buruk

“Life is not always a matter of holding good cards, but sometimes, playing a poor hand well.” — Jack London

Pasti kamu pernah mengalami bangun pagi dengan perasaan sebagai orang yang tidak penting, tidak siap, dan entah kenapa seluruh dunia terasa miring lima belas derajat ke kiri. Alarm terasa berbunyi sebelum waktunya dan kopi yang biasanya ramah tiba-tiba terasa entah.

Namun, siapa bilang hari buruk otomatis berarti hari tanpa produktivitas? Banyak penulis dan pekerja kreatif lainnya justru menghasilkan sesuatu saat mereka merasa dunia sedang goyah.

Salah satu kesalahan umum ketika menghadapi hari buruk adalah menunggu mood membaik dulu baru mulai bekerja. Padahal, mood itu sering kali berubah semaunya seperti cuaca. Kamu boleh menunggu matahari keluar untuk menjemur cucian, tetapi kalau dari pagi sampai sore hanya mendung, cucianmu tak akan kering.

Karena itu, prinsip sederhana sering kali lebih efektif. Kamu tulis saja dulu, meskipun sedikit, meskipun jelek, meskipun dengan malas. Tulisan, tugas, atau hal kecil apa pun bisa menjadi pijakan untuk menata ulang hari yang amburadul.

Hari buruk bukan alasan untuk berhenti bergerak; ia hanya menuntut langkah yang lebih kecil.

Stephen King pernah menulis bahwa “Para amatir duduk dan menunggu inspirasi, sedangkan kami langsung bangkit dan mulai kerja.” Ucapannya tidak berarti dia menyarankan kita untuk bekerja seperti robot. Justru sebaliknya, dia menegaskan bahwa kondisi seburuk apa pun—bahkan ketika tidak ada inspirasi—tak perlu menghalangi kita untuk bangkit dan menulis. Tentu saja, kita tidak perlu menulis seribu kata di hari yang sedang manyun. Seratus kata jauh lebih baik daripada cuma bengong.

Dalam The Writing Life, Annie Dillard menggambarkan proses menulis sebagai rangkaian kerja harian yang mencerminkan hidup kreatif kita. Ia mengingatkan bahwa kualitas hidup kreatif tidak ditentukan oleh momen-momen spektakuler, tetapi oleh kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. Ini sudah kita bahas dalam tulisan “Langkah Kecil Saja, Tapi Berlanjut”.[1]

Karena itu, bahkan pada hari ketika kamu cuma ingin meringkuk di bawah selimut sekalipun, melakukan satu tindakan kecil—membaca ulang paragraf, memperbaiki satu kalimat, atau sekadar membuka kembali naskah—sudah cukup untuk menjaga kesinambungan. Ritme kecil semacam itu membuat kamu tetap terhubung dengan pekerjaanmu, sehingga di hari-hari berikutnya tidak merasa harus memulai dari nol lagi.

Mentertawakan masalah yang membuat harimu buruk juga bisa menjadi alat bertahan yang tidak kalah efektif. Memang sekadar mentertawakan tidak menyelesaikan masalahnya, tetapi ia membantu mengubah cara kamu memandang masalah. Tidak perlu mentertawakan isu berat selevel Pandji Pragiwaksono, mentertawakan absurditas sehari-hari pun sudah cukup untuk meredakan ketegangan.

Misalnya, ketika semua aplikasi tiba-tiba meminta password baru tepat di hari ketika kamu lupa catatannya, atau ketika laptop memilih melakukan pembaruan sistem persis ketika kamu sedang butuh sekarang juga. Dengan mentertawakan “kesialan”  sebagai bagian dari keseharian—alih-alih sebagai bencana—kamu memberi ruang bagi pikiran untuk berhenti bereaksi secara emosional dan mulai merespons secara lebih wajar.

Kadang yang kamu butuhkan bukan langsung menulis paragraf baru, melainkan melakukan “produktivitas administratif”.

Hari buruk juga sering membuat kita berpikir bahwa produktivitas harus datang dalam bentuk gagah, seperti menyelesaikan proyek panjang atau menulis satu bab penuh. Padahal, pada hari-hari yang kacau, produktif bisa berarti hal yang jauh lebih sederhana.

Kadang yang kamu butuhkan bukan langsung menulis, melainkan melakukan “produktivitas administratif”, semisal merapikan meja kerja, menghapus file yang tidak terpakai, membaca ulang catatan, atau membereskan hal-hal kecil yang selama ini mengganggu fokusmu.

Aktivitas semacam ini bekerja seperti tombol reset. Ia membuatmu merasa sedikit lebih punya kendali. Setelah itu, barulah kamu bisa kembali ke pekerjaan utama dengan kepala yang lebih ringan dan ritme yang lebih stabil.

Meski begitu, ada satu hal yang tak boleh diabaikan, yaitu: hari buruk bukan berarti kamu harus memaksa diri melampaui batas. Produktif bukan berarti bekerja tanpa henti. Justru pada hari-hari yang kacau itu batasan perlu lebih jelas.

Produktivitas yang sehat adalah kombinasi antara tindakan kecil dan penerimaan bahwa segalanya tidak harus sempurna. Seperti yang pernah ditulis Voltaire dalam La Bégueule, “Yang terbaik adalah musuh dari yang baik.” Ini sebuah pengingat kuat bahwa mengejar kesempurnaan justru bisa menghalangi kita untuk menyelesaikan hal-hal yang cukup bagus. Pada hari yang buruk, yang penting adalah tujuan utama tetap bergerak, meski perlahan, tanpa harus menafikan hal-hal lain yang bisa dikerjakan.

Produktif di hari kacau tidak berarti menang besar, cukup tidak menyerah sebelum hari itu selesai.

Saya kira, menghadapi hari buruk sambil tetap produktif adalah soal menyesuaikan ekspektasi. Kamu tidak perlu menghasilkan mahakarya, tidak perlu menuntaskan semua hal yang menumpuk sekaligus, dan tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian kecil untuk bergerak sedikit demi sedikit.

Ketika hari terasa kacau, kamu bisa memilih berhenti total atau tetap melangkah walau pelan. Kalau kamu memilih tetap melangkah, langkah kecil itu akan cukup untuk membuatmu bertahan.

Dan siapa tahu, dari satu langkah kecil itu, kamu tiba-tiba menemukan dirimu sudah menyelesaikan sesuatu yang penting. Kalau tidak, ya…, setidaknya kamu bisa bilang bahwa di hari buruk itu, kamu berhasil tidak kalah poin melawan semesta yang sedang ngambek. [MW]

—–

[1] Tautan menuju tulisan “Langkah Kecil Saja, Tapi Berlanjut”: