2. Kelelahan Kreatif dan Masa Bera

“Almost everything will work again if you unplug it for a few minutes, including you.” — Anne Lamott

Mungkin kamu juga pernah mengalami kondisi yang saya alami ini: menghadap laptop untuk menulis, tapi layar tetap kosong sampai setengah jam. Kursor terus berkedip-kedip, tanda bahwa waktu terus berjalan, sementara energi saya macet. Itu kursor seolah-olah meledek saya, “Ayo, ngetik dooong. Masa gue doang yang kerja?” Lima menit pertama saya masih pede. Sepuluh menit kemudian saya mulai gelisah. Setelah hampir setengah jam, saya jadi jengkel dan mengetik satu kalimat pendek: Hari ini gua enggak nulis! Anehnya, setelah menulis itu justru saya merasa lega, seperti seseorang yang akhirnya berhenti memaksa sungai untuk terus mengalir deras. Nah, katanya sih, itu tanda saya mengalami yang namanya kelelahan kreatif.

Tapi, kelelahan kreatif itu apa, sih?

Menurut buku yang saya baca, kelelahan kreatif (creative burnout atau creative fatigue) bukannya kehabisan ide. Itu kondisi ketika sumber daya mental dan emosional untuk berkreasi menipis. Ide masih mondar-mandir di kepala, tapi energi untuk menangkapnya menyusut cepat seperti paket data dipakai nonton YouTube.

Dulu saya kira ini cuma karena malas, tapi ternyata beda. Orang malas tidak ingin menulis; orang yang lelah kreatif ingin menulis, tapi energinya bilang, “Enggak sekarang, ya, Sayang,” sambil mengedipkan mata kirinya.

Kelelahan kreatif bukan kurang ide, tapi kurang energi untuk menangkapnya.

Biasanya, kelelahan kreatif terjadi setelah kita menggeber diri untuk menulis terus-menerus. Setelah berhari-hari mengutak-atik adegan, memikirkan plot, dan memaksa diri “produktif,” kepala menjadi gaduh tapi isinya cuma gerendengan. Rasanya seperti berdiri di ladang yang habis dipanen. Tanah mengeras, jerami mengering, tapi saya masih berdiri dengan arit di tangan, ingin memanen sesuatu yang sudah habis.

Di zaman maraknya platform online dengan konten harian yang membanjir, saya kira orang jadi lupa bahwa menulis bukanlah produksi massal. Penulis bukan pabrik cerita. Dia lebih mirip ladang, dan ladang butuh musim. Kesadaran ini terasa seperti oase kecil ketika saya ingat bahwa saya hidup di dunia yang menyanjung kecepatan produksi: satu konten per hari, satu ide per jam, satu inspirasi per notifikasi, sekian ribu kata per hari. Namun, pikiran adalah tanah, yang jika terus ditanami tanpa diberi waktu istirahat, ia akan gersang. Tanah yang sehat butuh dibiarkan kosong beberapa waktu agar unsur haranya pulih, agar benih baru bisa tumbuh subur nanti.

Penulis bukan pabrik; ia lebih mirip ladang yang butuh musim untuk kembali subur.

Ah, saya jadi ingat kearifan orang Baduy dalam berladang. Mereka panen setahun sekali dan tidak menanam di lahan yang sama pada tahun berikutnya. Setelah panen, mereka membiarkan ladang beristirahat selama beberapa tahun agar kesuburan tanahnya pulih. Itu disebut masa bera. Ketika tiba waktunya kembali ke ladang pertama, tanah yang dulu gersang sudah kembali gembur tanpa pupuk atau alat berat, hanya dengan diberi waktu. Saya melihat ada kebijaksanaan yang lembut di situ. Mereka tahu kapan menghasilkan, tahu kapan membiarkan. Dan saya kira, penulis pun butuh masa bera seperti itu.

Masalahnya, kekosongan karya sering dianggap sebagai bukti ketidakproduktifan. Kita dipuji ketika produktif, tapi segera turun rating ketika beristirahat. Kelelahan mental harus diabaikan demi menulis serial baru atau membuat konten baru. Padahal, F. Scott Fitzgerald pernah bilang, “Kamu [mestinya] tidak menulis karena ingin mengatakan sesuatu; kamu menulis karena ada yang ingin kamu katakan.” Saya menafsirkan kalimat itu begini: mestinya, menulis itu bukannya memaksa cerita keluar, tapi menunggu sampai cerita itu benar-benar ingin lahir.

Dan sepertinya, kelelahan kreatif itu bisa mendatangi siapa saja. Virginia Woolf, misalnya, pernah mengaku ada hari-hari ketika pikirannya berkeliaran seperti anak kecil yang tersesat di rumah sendiri. Saya jadi terhibur membaca kalimat itu. Ternyata, bahkan penulis sekelas Woolf pun pernah mengalami kondisi gaje. Nah, kalau dia saja terkadang bisa bingung sendiri, apalagi saya yang bahkan sering bingung mau bakso atau mi ayam? Artinya, para penulis besar juga pernah “kosong”. Dan itu tidak apa-apa. Pada waktunya, toh, mereka kembali mencipta.

Menatap layar kosong kadang bukan kegagalan, melainkan masa bera yang membuat pikiran kembali gembur.

Saya sendiri merasa masih harus belajar berdamai dengan kekosongan itu. Misalnya, jika suatu waktu saya membuka laptop, menatapnya sekian lama tanpa bisa menulis apa-apa, lalu menutupnya kembali, saya ingin bisa melakukannya tanpa rasa bersalah. Pada hari-hari itu, saya akan menyeruput kopi lebih pelan, membaca buku yang saya ambil random, mendengarkan Mozart atau Rhoma Irama, tanpa menulis sebiji kata pun. Dan entah bagaimana caranya, mungkin beberapa hari kemudian, sebuah ide muncul tanpa diminta, lalu semangat menulis pun kembali menghijau.

Karena itu, seandainya nanti saya bisa menulis secara konsisten pun, saya tetap ingin punya keberanian untuk menghadapi kekosongan pascasibuk. Saya ingin mengingat bahwa, menatap layar kosong tanpa menghasilkan satu kalimat pun adalah bagian dari siklus yang harus dilalui penulis. Seperti orang Baduy, saya pun perlu tahu kapan menanam, kapan membiarkan tanah pikiran beristirahat, agar ketika waktunya menanam kembali, ide-ide baru bisa tumbuh dari tanah yang saya istirahatkan.

Yatapi jangan jadikan ini alasan untuk bablas keenakan rebahan, Markonah! [MW]