“Creating a steady writing schedule is one of the simplest ways to build momentum.” — Stefan Mitrovic
Tulisan kemarin (“Langkah Kecil Saja, Tapi Berlanjut”) memunculkan satu pertanyaan pada saya: “Bagaimana dengan para penulis di platform online?” Kamu tahu, penulis di platform novel online—Wattpad, Webnovel, HiNovel, Dreame, Fizzo, dan para kerabatnya—hidup dalam ritme menulis yang tidak ramah mental. Mereka harus menayangkan satu bab per hari. Dan itu bukan target opsional. Itu adalah aturan yang tak bisa ditawar.
Banyak platform memberi insentif lewat sistem bonus, eksposur, hingga algoritma yang hanya menyukai mereka yang rajin mengunggah. Akibatnya, para penulis online terjebak dalam treadmill kreatif. Mereka berlari terus tapi tidak sampai ke mana-mana selain menambah jumlah langkah. Mereka menulis dalam tekanan “kalau tak mengunggah hari ini, pembaca minggat besok,” sebuah kondisi yang bisa membuat ketar-ketir seperti dompet karyawan 1-2-3: tanggal 1 gajian, tanggal 2 bayar utang, tanggal 3 nungguin tanggal 1 lagi.
Kalau pernah memperhatikan penulis novel online, kamu akan melihat satu hal, yaitu mereka punya keberanian yang sulit dijelaskan. Bukan keberanian menghadapi naga atau terjun ke Palung Mariana, melainkan keberanian menatap layar kosong sambil tahu bahwa ribuan pembaca sedang merapatkan kursi, menunggu kelanjutan drama cinta, pertarungan sihir, perseteruan geng mafia, atau pertikaian keluarga kaya-raya yang rumahnya, entah kenapa, kebanyakan berlantai tiga.
Dunia platform online itu keras. Dan para penulisnya hidup di antara tenggat yang tidak mengenal belas kasihan serta algoritma yang gampang ngambek kalau dia absen sehari saja.
Para penulis platform online hidup di antara tenggat yang tak mengenal belas kasihan serta algoritma yang gampang ngambek kalau dia absen sehari saja.
Menulis satu bab sehari itu bukan pekerjaan untuk penulis bermental cemen. Itu hanya bisa dilakukan oleh penulis sprint yang mampu berlari sambil menggendong ransel berisi batu kali. Masalahnya, meski menulis cepat tidak selalu buruk, menulis cepat tanpa struktur, tanpa ritme, atau tanpa jeda bisa membuat cerita jadi seperti mi instan tanpa bumbu.
Banyak penulis online akhirnya kelelahan, kehilangan arah naskah di bab 30, atau mengalami apa yang saya sebut “sindrom plot menguap”, yaitu ketika tiba-tiba mereka tidak tahu lagi siapa tokoh utama, siapa lawannya, dan kenapa ada pangeran vampir jadi CEO termuda dengan kekayaan melebihi Elon Musk.
Saya membayangkan rutinitas mereka seperti pekerja pabrik ide. Bangun pagi, cek komentar pembaca (“Thor cepet apdet dong aku nangis nih!”), tarik napas panjang, lalu mulai merangkai kalimat. Tak ada drama menunggu ilham. Tak ada waktu untuk ritual lilin aromaterapi atau playlist musik lo-fi untuk menciptakan suasana. Yang ada cuma deadline harian yang menodongkan pistol sambil tertawa jahat.
Solusinya bukan dengan menulis alon-alon waton kelakon, tentunya, karena ekosistem online memang menuntut unggahan yang konsisten. Yang mereka perlukan adalah membuat tahapan kecil di balik tujuan besar. Misalnya, mereka tidak perlu menganggap satu bab per hari sebagai satu unit utuh. Bab itu bisa dipecah menjadi sublangkah: satu adegan pagi, satu adegan siang, satu adegan sore, revisi ringan malam, supaya siap diunggah besok.
Dengan begitu, mereka mencicil mengurangi stres, bukan menumpuknya sampai meledak. Bahkan, ada penulis online sukses yang membagi bab menjadi blok 300 kata, yang ia tulis setiap kali punya waktu lowong—ketika menunggu bus, menunggu jemuran kering, atau menunggu transferan dari orang yang katanya mau bayar utang tapi enggak muncul-muncul.
Mereka mesti mencicil mengurangi stres, bukan menumpuknya sampai meledak.
Trik lain yang bisa dipakai penulis online adalah menyusun peta cerita jangka panjang. Tidak harus super detail, cukup tahu bab 1 sampai 10 arahnya ke mana, konflik utama siapa, dan klimaks akan seperti apa. Setelah sampai bab 9, mereka bisa bikin outline untuk 10 bab berikutnya, dan seterusnya.
Dengan begitu, ketika harus menulis cepat, mereka tidak menulis dengan meraba-raba di kegelapan. Mereka menulis di koridor yang sudah diterangi lampu-lampu kecil bernama outline. Dan, percaya atau tidak, outline kecil itu bisa menjadi penolong besar ketika imajinasi sedang mogok.
Ada juga yang menggunakan strategi “buffer chapter,” yaitu menulis beberapa bab cadangan saat semangat sedang naik karena mestakung, lalu menjadwalkan unggahan harian. Penulis online yang berpengalaman memperlakukan buffer ini seperti tabungan darurat, yang dipakai ketika mereka sedang mengalami kendala. Entah karena sakit, sibuk, atau mengalami krisis eksistensial ketika melihat jumlah yang membuka gembok berkurang.
Yang terakhir, solusi paling manusiawi adalah menurunkan standar secara realistis. Ini bukan berarti menulis buruk dengan sengaja, melainkan menghindari perfeksionisme yang mematikan. Di platform online, pembaca cenderung lebih menghargai kesinambungan cerita daripada bab superkeren yang butuh waktu seminggu menulisnya. Terkadang, bab yang “cukup baik” dan terunggah tepat waktu lebih punya nilai daripada bab sempurna yang terlambat dua hari, apalagi kalau pembaca sudah menagih bab baru sambil demo.
Salah satu solusi paling manusiawi adalah menurunkan standar secara realistis dengan menghindari perfeksionisme yang mematikan.
Dari sana kita bisa melihat bahwa penulis online adalah contoh paling nyata dari disiplin bertahap yang dibangun dengan tujuan-tujuan kecil. Mereka menulis karena harus memenuhi berjanji. Bukan kepada editor, bukan kepada penerbit, melainkan kepada pembaca yang setiap hari mengintip aplikasi untuk melihat apakah bab baru sudah tayang.
Nah, kalau ingin membangun kebiasaan menulis, kamu bisa meniru mereka. Tidak perlu memaksakan diri langsung menulis 3.000 kata. Kamu bisa mulai dengan 300 kata sehari, atau satu halaman, atau satu adegan. Tugasmu bukan membuat mahakarya setiap kali mengetik. Tugasmu cuma satu: hadir menulis.
Para penulis online, tanpa disadari telah memberi kita salah satu pelajaran paling ampuh tentang menulis, yaitu langkah kecil yang stabil mengalahkan semangat besar yang cuma datang setiap musim kemarau.
Langkah kecil yang stabil mengalahkan semangat besar yang cuma datang setiap musim kemarau.
Penulis platform online juga merupakan bukti ekstrem bahwa langkah kecil itu penting untuk bertahan. Ritme cepat memang tidak selalu bisa dihindari, tetapi ia bisa ditata ulang agar tidak menjadi monster. Beberapa poin berikut bisa jadi panduan:
- Pecahlah target besar jadi bagian-bagian kecil yang mudah dieksekusi,
- jagalah konsistensi dan hematlah energi,
- buatlah outline minimal,
- perbanyaklah bab buffer, dan
- hindarilah perfeksionisme.
Yakinlah, kalau semua itu kamu lakukan, menulis satu bab sehari tidak lagi terasa seperti dikejar-kejar kuyang. Dan siapa tahu, kamu bisa menyelesaikan cerbungmu tanpa perlu dibombardir komentar pembaca, yang tak sabar menunggu cerita pelayan restoran yang sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat yang menguasai seratus perusahaan multinasional. [MW]




