18. Langkah Kecil Saja, Tapi Berlanjut

“Success is the sum of small efforts, repeated day in and day out.” — Robert Collier

Saya punya buku catatan lama, yang saya tulis ketika masih yakin bahwa niat kuat saja sudah cukup untuk menyelesaikan tulisan. Di bagian atas halaman pertama, saya tulis kutipan Robert Collier di atas dengan pulpen merah. Di bawahnya saya menulis target muluk: Selesaikan satu novel dalam satu bulan. Halaman berikutnya … kosong. Hanya ada titik-titik tinta pulpen yang diketuk-ketukkan karena gabut, dan tampak seperti jerawat penulis pemula yang baru sadar bahwa niat besar tidak menjamin hasil besar.

Ironisnya, di bawah target muluk di atas saya tambahkan satu catatan kecil: Besok mulai. Dan tentu saja, yang namanya besok, ya, tidak pernah hari ini.

Jujur saja, saya dulu membayangkan kegiatan menulis sebagai ledakan produktivitas. Saya menginginkan momen-momen heroik ketika mengetik seribu kata dalam satu jam, meski sambil minum kopi sasetan yang rasanya seperti masalah hidup. Bagi saya, itu terdengar romantis meskipun jelas tidak realistis.

Baru kemudian saya menyadari bahwa yang membedakan orang yang menyelesaikan naskah dengan yang tidak bukan target besarnya. Kenyataannya lebih sederhana, yaitu: menulis membutuhkan keberanian mengulang-ulang langkah kecil yang sama setiap hari, bahkan ketika mood sedang lemot seperti sinyal Wi-Fi di kamar belakang.

Menulis membutuhkan keberanian mengulang-ulang langkah kecil yang sama setiap hari, bahkan ketika mood sedang lemot.

Ini bukan sekadar trik produktivitas. Ini adalah perjanjian ringan antara saya dan tulisan saya, seolah-olah saya bilang: “Aku akan menulis hari ini. Tidak harus banyak, cukup satu dua paragraf saja.” Satu dua paragraf sekali duduk, sepuluh menit saja setiap pagi, sepuluh menit lagi sore harinya, atau membaca ulang dua tiga paragraf tulisan kemarin.

Saya punya teman yang memutuskan menulis satu paragraf saja setiap hari. Tiga bulan kemudian dia terkejut menemukan empat puluh halaman draf. Memang itu bukan mahakarya, tapi setidaknya dia punya bahan yang bisa diolah. Kebiasaan kecil itu membuatnya tidak lagi alergi membuka dokumen karena dia sudah punya bukti kemajuan.

Kita bisa melihat contoh konkret para penulis dan seniman yang memakai langkah-langkah kecil untuk membangun karya besar. Mereka tidak menulis seperti membangun rumah dengan kayu gelondongan. Mereka membangunnya dengan potongan-potongan kecil sesuai dengan kekuatannya dan kebutuhan bentuk rumahnya.

  • Ray Bradbury adalah contoh bagaimana kebiasaan kecil bisa melahirkan karya besar. Dia menulis setiap hari sejak remaja, menjadikan menulis sebagai kegiatan sehari-hari, seperti menyikat gigi. Konsistensi Bradbury adalah bukti bahwa akumulasi kecil membentuk karya besar. Kebiasaan menulis kata demi kata yang diulang selama puluhan tahun itu menjadi novel, cerpen, dan imajinasi teknologis yang sekarang dianggap klasik.
  • Maya Angelou menunjukkan bahwa rutinitas kecil bisa berupa ritual menjaga ruang imajinasi. Dia menyewa kamar hotel sederhana setiap kali menulis. Ia datang pagi-pagi, membawa kartu permainan kesayangannya, sebuah kamus, dan sebotol sherry. Dia tidak menunggu inspirasi, tetapi menyiapkan ruangan dengan baik lalu mengundangnya sehingga inspirasi merasa tak sopan kalau tak mampir.
  • Stephen King adalah mesin kata harian yang tak ada tombol off-nya. Dia menetapkan target sekian ratus kata per hari. Tidak harus bagus, tidak harus dramatis, yang penting selesai. Ia menulis setiap hari tanpa terkecuali, bahkan saat ulang tahun atau liburan. Baginya, langkah kecil adalah jumlah kata yang konsisten, tidak harus glamor atau spektakuler.
  • Haruki Murakami membawa disiplin itu ke level ritual hidup. Dia bangun sebelum fajar, menulis lima hingga enam jam, lalu berlari atau berenang, membaca, dan tidur lebih awal. Semuanya diulang secara identik.
  • Anthony Trollope, penulis abad ke-19, punya pendekatan yang lebih teknis. Dia menulis berdasarkan blok-blok waktu—15 menit menulis 250 kata—sehingga kata-katanya tersusun secara konsisten, macam produk pabrik yang efisien. Itu memang bukan cara kerja yang romantis, tapi hasilnya nyata, yaitu 47 novel.
  • Ernest Hemingway, berkebalikan dengan Trollope yang mekanis, justru berhenti menulis ketika dia masih tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Strateginya memang terdengar aneh, tetapi cara ini memudahkannya melanjutkan tulisan keesokan harinya. Dengan begitu, dia tidak pernah memulai dari nol setiap hari. Baginya, kemajuan kecil setiap hari bisa dicapai dengan strategi menyimpan bahan yang memudahkan untuk melanjutkan prosesnya besok.
  • James Clear, penulis Atomic Habits, memang bukan penulis fiksi, tetapi dia yang merumuskan konsep kebiasaan “1% better”—“Jadilah 1% lebih baik setiap hari”—yang banyak dipakai penulis modern. Dia sama sekali tidak menjanjikan keajaiban. Yang dia tawarkan justru prinsip pertumbuhan yang sederhana: tambahlah sedikit setiap hari, dan lihatlah apa yang terjadi setelah setahun.. Kamu tidak akan menyangka bisa menulis sebaik itu.
  • Dee Lestari menyusun proses kreatif seperti arsitek membangun rumah: pondasi dulu, baru dinding, lalu atap, dan seterusnya hingga dekorasi interior dan eksteriornya. Dengan metode Kaizen Writing, dia memecah proyek besar jadi serpihan kecil—riset, outline, beat struktur—semuanya dicicil dengan disiplin. Dia menyebut metode seperti itu sebagai cara agar proses tetap terkendali.
  • Seno Gumira Adjidarma menunjukkan bahwa langkah kecil itu bisa berupa dokumentasi harian. Ia menulis fragmen-fragmen kecil—catatan pengalaman, kesan, pengamatan, dan wawancara—yang kelak dia jahit menjadi cerita. Koleksi fragmen kecilnya membentuk narasi yang padat dan bermakna, membuktikan bahwa pengumpulan materi secara sedikit demi sedikit sangat berharga.
  • Tere Liye, penulis populer yang superproduktif, juga tidak mengandalkan bom ide yang meledak langsung menjadi sebuah buku. Dia secara konsisten bekerja dengan jam dan target kecil yang realistis, dengan pola “pegawai kantor”: ada jam kerja, ada target realistis, ada sesi-sesi yang konsisten. Produktivitasnya adalah hasil akumulasi pengulangan yang kemudian melahirkan puluhan buku yang mengisi rak-rak toko buku di seluruh Indonesia.

Cara kerja mencicil secara konsisten ini tidak hanya dilakukan para penulis. Di bidang seni lainnya pun kita bisa menemukannya.

  • Dari ratusan surat kepada Theo, adiknya, kita tahu bahwa Vincent van Gogh melukis atau membuat sketsa setiap hari, meski dia sendiri sering merasa hasilnya buruk. Tetapi lewat latihan-latihan kecil itulah garis sampuannya menguat, warna lukisannya hidup, dan gaya khasnya lahir.
  • Yo-Yo Ma, maestro cello, mencontohkan versi dunia musik dari prinsip yang sama: latihan mikro setiap hari sampai sempurna. Iaber fokus pada bagian-bagian kecil yang sulit, bukan keseluruhan repertoar. Baginya, satu bar yang dikuasai hari ini lebih berharga daripada satu simfoni yang dimainkan setengah matang. Dan dengan cara itu ia membangun keahlian kelas dunia.
  • Hayao Miyazaki dari dunia film animasi mesti kamu sebut juga sebagai teladan cara kerja. Pendiri Studio Ghibli itu hanya menargetkan satu halaman storyboard per hari. Tidak lebih, dan tidak harus spektakuler. Tetapi langkah kecil itu, ketika diulang ratusan kali, membentuk gaya visualnya yang khas, dan melahirkan film berkesan kuat yang kita kenal, dari Spirited Away, Princess Mononoke, hingga Howl’s Moving Castle.

Saya yakin bisa menemukan puluhan penulis atau seniman lainnya yang bekerja dengan menerapkan langkah-langkah kecil secara konsisten. Semuanya akan mengingatkan saya bahwa menulis bukan lomba lari cepat. Ia adalah seni berjalan kaki yang disiplin dan rutin.

Saya bisa memulai dari yang paling kecil—satu kalimatkah, lima menitkah, satu paragrafkah—lalu mengulanginya. Toh, sejarah menulis penuh contoh bahwa konsistensi kecil mengalahkan tekad besar yang cuma mimpi.

Karena itu, mulai sekarang saya akan rutin duduk, meski sebentar saja, untuk menulis. Saya ingin melihat bagaimana kata-kata saya, sedikit demi sedikit, terangkai menjadi ratusan halaman yang bisa saya ubah menjadi tulisan utuh. [MW]