“The beginning of a story is like opening a door you’ve never opened before.” — Italo Calvino
Kamu duduk belasan menit menatap layar yang seperti dinding rumah sakit dan gagal menyusun kalimat pembuka yang kamu rasa pas. Satu kalimat doang, padahal. Cuma satu. Tapi rasanya seperti membuka pintu gudang seberat satu ton yang engselnya sudah karatan. Setiap kali mengetik sesuatu, kamu selalu merasa belum pas. Entah merasa terlalu biasa, terlalu bombastis, atau terlalu sok filosofis. Kamu hapus lagi, lalu menatap layar kosong lagi.
Mungkin karena kamu terbebani oleh tuntutan untuk membuat kalimat pembuka yang nendang. Kamu sering mendengar orang bilang bahwa nasib setiap cerita ditentukan oleh kalimat pembukanya. Awal cerita itu seperti membuka pintu yang belum pernah dibuka sebelumnya, kata Italo Calvino. Pintu itulah yang menentukan apakah pembaca akan masuk, berhenti, atau melengos dan berbalik.
Kalimat pembuka adalah pintu berisi janji kepada pembaca sekaligus petunjuk cerita. Dalam satu kalimat, kamu memberi tahu pembaca: “Inilah dunia yang akan kalian masuki.”
Kalimat pembuka adalah janji kepada pembaca sekaligus petunjuk arah cerita.
Kamu ingat kalimat pembuka buku-buku yang terkenal. Pembukaan Anna Karenina, misalnya: kalimatnya terasa seperti gong filosofis yang memulai sebuah drama keluarga. Keluarga bahagia mirip satu dengan lainnya, keluarga tak bahagia tidak bahagia dengan caranya sendiri-sendiri. Tolstoy langsung menyenggol sesuatu yang dialami semua rumah tangga: kebahagiaan yang seragam, ketidakbahagiaan yang unik.
Kalimat pembuka paling terkenal dari Albert Camus adalah: Ibu meninggal hari ini. Empat kata sederhana (Aujourd’hui, maman est morte), tanpa metafor, tanpa sentimen. Tapi di balik nada datarnya itu dia memantulkan dunia yang absurd dan sunyi, yang menjadi inti novelnya. Ketika membacanya, kamu penasaran pada apa yang membuat sang tokoh bisa mengabarkan kematian ibunya dengan begitu dingin.
Herman Melville memulai Moby-Dick dengan gaya yang akrab: Panggil saya Ishmael. Sebuah kalimat pendek yang terdengar seperti seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahmu di warkop para pelaut dan memperkenalkan diri. Nada percaya diri, personal, dan akrab itu membuat “Ishmael” (entah siapa nama sebenarnya) seperti menepuk pundakmu dan berkata, “Ayo, ikut aku berlayar.”
Berikutnya, kalimat pembuka 1984 yang ditulis George Orwell: Hari yang cerah dan dingin di bulan April, dan jam-jam dinding berdentang tiga belas kali. Sebuah kalimat yang langsung membuat telingamu berdiri karena ada keganjilan di sana: jam berdentang tiga belas kali. Kok, tiga belas kali? Dari keanehan itulah seluruh dunia distopia Orwell digelar.
Dan salah satu kalimat pembuka yang kamu sukai ada dalam Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan: Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian. Kalimat pembuka itu tidak mengetuk pintu. Ia menendangnya. Tanpa pemanasan, tanpa basa-basi, kamu langsung dilempar ke dunia yang absurd, seolah-olah itu hal yang biasa saja.
Menariknya, ketika memperhatikan, kamu melihat semua kalimat pembuka di atas bergerak di wilayah yang sama secara teknis, yaitu narasi.
- Tolstoy membuka Anna Karenina dengan narasi reflektif berupa pernyataan umum tentang keluarga;
- Camus membuka The Stranger dengan narasi faktual yang kering dan nyaris seperti laporan;
- Melville membuka Moby-Dick memakai narasi orang pertama yang terdengar seperti sapaan personal;
- Orwell memulai 1984 dengan narasi deskriptif tentang waktu dan suasana;
- Eka Kurniawan mengawali Cantik Itu Luka dengan narasi peristiwa yang absurd sebagai fakta cerita.
Tidak ada dialog, tidak ada percakapan yang memancing konflik secara instan. Yang ada hanyalah suara pencerita yang, sejak kalimat pertama, sedang menentukan caramu memasuki dunia cerita.
Kamu merasa ini penting untuk diamati karena kamu sering mendengar nasihat “bukalah dengan dialog” atau “bukalah dengan adegan,” yang terdengar seperti hukum yang mesti dipatuhi. Contoh-contoh di atas menunjukkan sebaliknya. Ternyata, pembukaan yang kuat ditentukan oleh kesesuaiannya dengan dunia dan nada cerita yang hendak dibangun sejak awal, tak peduli apa pun bentuknya, apakah narasi, dialog, atau deskripsi.
Pembukaan yang kuat ditentukan oleh kesesuaiannya dengan dunia dan nada cerita yang hendak dibangun sejak awal.
Ketika membaca kalimat-kalimat pembuka itu, kamu sering lupa bahwa kalimat-kalimat itu tidak lahir sekali ketik. Kamu sering lupa bahwa kalimat itu harus melewati latihan ketat berdarah-darah sebelum bisa tampil memukau di panggung. Kamu sering lupa bahwa mereka mungkin sudah melalui sekian banyak kelelahan, keputusasaan, bahkan cedera. Yang kamu lihat adalah hasil akhirnya: sebuah kalimat yang memikat, yang sebenarnya lahir dari banyak perjuangan.
Itu yang kemudian membuatmu sadar bahwa masalahmu bukannya tidak bisa menulis kalimat pembuka. Masalahnya karena kamu ingin langsung mencetak sejarah. Kamu ingin membuat pembaca terpikat sejak jari-jarimu menyentuh papan tik, padahal kamu sendiri belum tahu napas ceritamu akan bergerak ke mana.
Kamu pernah membaca sebuah tulisan, tapi lupa di mana, yang menyebut bahwa kalimat pembuka tidak harus sempurna, yang penting ia harus “pas”. Terkadang kalimat pembuka paling kuat justru yang terdengar sederhana. Misalnya: Mereka menembak bapakku tepat di depanku. Tidak ada metafor, tidak ada pernak-pernik. Hanya kalimat sederhana, tapi menembus. Dan dari kalimat seperti itulah cerita mendapatkan napas pertamanya.
Kalimat kedua sering lebih menentukan apakah pembaca akan bertahan atau tidak.
Lalu, kamu menyadari sesuatu yang sama pentingnya, yaitu kalimat kedua. Kalimat kedua sering lebih menentukan apakah pembaca akan bertahan atau tidak. Misalnya, kamu menulis kalimat pembuka, Dia terbangun pagi itu dan yakin bahwa hadiah terbaik bagi Darman adalah sebilah golok di lehernya. Jika kalimat berikutnya mendukung lewat detail konkret—bukan penjelasan bertele-tele—pembaca akan tersedot lebih dalam.
Kamu jadi tahu bahwa kalimat pembuka dan kalimat kedua harus berpadu seperti tarikan dan embusan napas. Yang satu memantik rasa penasaran, yang lain membuatnya terus menyala.
Dengan mengingat posisinya sebagai pemantik, kamu menyadari bahwa pertanyaanmu tentang kalimat pembuka mestinya bergeser. Kalau mulanya kamu bertanya, “Bagaimana memulai cerita?”, pertanyaan yang lebih tepat kamu ajukan justru, “Apa yang paling pantas menjadi awal cerita?” atau “Dari titik mana dunia cerita mulai berdenyut?”
Pertanyaan yang lebih tepat diajukan justru, “Apa yang paling pantas menjadi awal cerita?”
Kamu melihat pada contoh-contoh di atas bahwa titik awal itu bisa bermacam-macam wujudnya. Ia bisa berupa satu kalimat pernyataan yang dingin dan tegas, sepotong kabar yang terasa ganjil, sebuah adegan yang langsung melempar kita ke tengah peristiwa, atau narasi perkenalan yang terdengar biasa saja. Tidak ada bentuk yang lebih unggul dari yang lain. Nilainya terletak pada apakah titik itu memang tepat dijadikan pintu masuk ke dunia cerita yang ingin dibangun.
Dan titik itu tidak selalu harus menggedor pintu pembaca. Terkadang cukup dengan mengetuk pelan. Yang penting, ia memberi sinyal: ada sesuatu yang menarik sedang dimulai, dan pembaca diundang masuk untuk menyaksikannya.
Begitu kamu menemukan titik itu, kalimat pembuka biasanya muncul. Kadang datang dalam bentuk kalimat utuh, kadang hanya penggalan. Tak apa. Yang penting ia muncul dulu. Kamu selalu bisa memperbaikinya kemudian—atau bahkan menggantinya sama sekali. [MW]




