“I get too emotional when I write.” — Ernest Hemingway
Ernest Hemingway menulis sambil berdiri biar pikirannya tetap waspada, katanya. Namun, rupanya trik itu tidak selalu berhasil karena ia mengaku masih kelimpungan mengatur emosinya saat menulis. Dan Ray Bradbury pernah berkata bahwa orang harus tetap “mabuk” ketika menulis agar kenyataan tidak menghancurkannya. Sementara itu, di belahan dunia yang lain, Franz Kafka merasa pekerjaannya sebagai pegawai asuransi telah mencuri emosinya ketika menulis pada malam hari sepulang kerja.
Tiga kepala, tiga kondisi, tiga cara bertarung mengatasi emosi. Ketiganya memperlihatkan proses menulis yang diiringi emosi yang pasang surut seperti gelombang. Dan dari pergulatan emosi itulah cerita-cerita mereka muncul—cerita-cerita yang kadang bikin saya bertanya-tanya, kenapa di dunia ini ada orang yang sanggup bercerita dengan sebegitu intensnya.
Menulis memang tidak pernah kalis dari emosi. Hemingway boleh saja berdiri demi menjaga kewaspadaan, Bradbury boleh saja mengejar rasa “mabuk”, dan Kafka boleh saja mempertahankan sisa emosinya yang tercuri. Namun, masing-masing tetap harus berhadapan dengan gejolak yang muncul ketika menulis. Bahkan, sebelum jari bergerak, hati sering kali sudah ribut duluan. Ada banyak antusiasme, tetapi ada juga sedikit ragu, sedikit takut, sedikit ingin kabur, atau sedikit pertanyaan, “Ngapain nulis, sih?”
Sebelum jari bergerak, hati sering kali sudah ribut duluan. Ada rasa cemas, jengkel, godaan untuk menunda, malas, tapi ada juga rasa gembira.
Emosi ketika menulis itu seperti pembonceng yang ngeyel. Mau kamu ajak atau enggak, dia sudah nangkring duluan di jok motormu, kayak dia yang punya motor dan kamu yang pinjam. Masalahnya tinggal apakah kamu akan membiarkannya duduk manis saja sampai tujuan, atau mengizinkannya ikut memegang setang?
Salah satu pembonceng paling bawel adalah rasa cemas. Kamu cemas jangan-jangan idemu payah, cemas kalau-kalau karyamu disalahpahami, cemas kalau nanti semua orang yang membaca hasilnya bilang, “Ini serius cuman gini doang? Yaelah.” Bikin stres, memang.
Meski begitu, rasa cemas itu tanda bahwa setiap orang berubah-ubah. Zadie Smith pernah bilang, “You are never the same person two days in a row when you write.” Artinya, ketika menulis, kita berubah setiap hari mengikuti apa yang kita tulis. Karena itu, yang penting memang bukan kestabilan emosimu. Yang penting adalah kesediaanmu untuk kembali duduk, membuka laptop—atau apa pun alat tulismu—dan melihat apa yang bisa kamu tulis hari ini. Meskipun mood-mu gonta-ganti, pikiranmu pindah randah, tapi niatmu stays strong.
Selain cemas, ada juga rasa jengkel. Kamu jengkel sendiri saat tulisanmu tak sesuai harapan. Kamu sudah menulis lima paragraf, lalu merasa empat setengahnya mendingan dibuang ke jurang saja. Akhirnya, kamu merasa jadi seperti printer rusak: berisik tapi tak menghasilkan apa-apa.
Emosi yang ini lumayan tricky karena saat sedang jengkel, kita sering lupa bahwa awal proses kreatif memang selalu berantakan. Anne Lamott sudah sejak lama memperingatkan bahwa draf-draf awal pasti jeblok. Dan itu normal. Jadi, kalau kamu jengkel, ingatlah bahwa yang jeblok itu tulisanmu, bukan kamu.
Lalu, ada emosi yang lebih senyap tapi mematikan, yaitu godaan untuk menunda. Si pembonceng tak diundang ini suka bilang, “Nanti aja, deh, satu episode drakor lagi. Masih sore, kok.” Godaan untuk menunda ini selalu punya alasan yang masuk akal.
Cara mengelolanya bisa dengan memberi tugas kecil kepada diri sendiri. Ketika ada dorongan untuk menunda, tulislah satu frasa, atau satu kalimat, atau satu paragraf yang biar saja jelek, toh bisa diperbaiki. Dan godaan untuk menunda itu tidak ngeyel-ngeyel amat sebenarnya. Cukup diberi tugas kecil biar gerak dikit agar godaannya hilang.
Kemudian ada rasa malas. Emosi yang ini beda lagi. Ia punya bakat alami merayu dengan kenyamanan. Rasa malas biasanya muncul dengan suara yang akrab, “Rebahan kayaknya enak nih.” Dia mengingatkan kita akan hal-hal yang bikin kita merasa hidup kita sudah cukup, lantas ngapain ngoyo? Enakan juga rebahan; enakan juga nyekrol medsos; enakan juga ngegibah.
Mengelolanya bisa dengan menggunakan trik mengubah atmosfer. Coba pancing dia dengan suasana menulis yang menyenangkan. Pasang lagu favorit yang rada nge-beat, buka buku catatan paling estetik, atau siapkan minuman yang bikin matamu melek seratus watt. Rasa malas itu mudah terbawa atmosfer. Begitu kamu bisa menciptakan ruang yang terasa enak untuk menulis, ia akan mengendur.
Etapi, tidak semua yang membonceng itu emosi negatif, sih. Ada juga rasa gembira. Ini emosi yang sering disalahpahami sebagai kesombongan dini. Begitu merasa tulisan kita “lumayan juga,” kita buru-buru mencurigai diri sendiri, seolah-olah kita bersalah karena merasa puas sebelum waktunya.
Padahal bukan itu. Kegembiraan mungkin muncul ketika ada bagian dari tulisan kita yang akhirnya terasa klik. Entah karena ritme kalimatnya enak, karena ide yang menemukan bentuknya, atau karena semangat kita untuk menulis sudah naik setengah milimeter hari itu.
Dan rasa gembira semacam itu perlu dirawat biar api kreativitasmu tetap menyala. Kalau cemas bikin kamu enggak pede, jengkel bikin kamu menghapus empat setengah paragraf, malas bikin kamu rebahan, rasa gembiralah yang bikin kamu kembali duduk untuk lanjut menulis.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai rasa gembira berubah jadi waham bahwa tulisanmu sudah sempurna. Selama kegembiraanmu tidak berubah jadi “Wah, gua udah hebat, ternyata,” kamu aman, Bray.
Tidak ada resep tunggal bagaimana cara mengelola, sama seperti tidak ada aturan pasti dalam menulis.
Terus, bagaimana cara mengelola semua emosi ini? Tidak ada resep tunggal—sama seperti tidak ada aturan mutlak dalam menulis. Semua cara yang disampaikan di atas hanya salah satunya. Tapi kamu bisa memperlakukan emosi seperti teman yang membonceng tadi. Cemas? Beri dia minum. Malas? Suruh dia turun biar jalan dikit. Marah? Berhenti dulu. Biarkan dia duduk, tarik napas, jangan langsung diceramahi. Gembira? Nah, yang ini boleh membonceng sambil memeluk kamu, asalkan tetap kamu yang pegang setang.
Seperti disinggung di atas, Zadie Smith berpendapat bahwa perubahan diri ketika menulis itu tak terhindarkan. Karena itu, kamu tidak perlu menunggu mood stabil baru menulis, cukup belajar berdamai dengan diri yang berbeda setiap hari. Kalau hari ini kamu menulis dengan penuh semangat, ya, bagus. Kalau besok kamu menulis sambil manyun karena terasa berat, coba cek makanan di dapur, mungkin itu cuma karena kamu lapar.
Neil Gaiman pernah memberi saran yang rada menenangkan. Dia bilang, ketika menulis, jangan percaya 100% pada perasaanmu tentang tulisanmu karena “the process gives you the wrong feelings.” Artinya, kalau kamu merasa tulisanmu jelek banget, itu sering hanya efek samping kelelahan emosional, atau cuma karena kamu kurang minum. Gaiman menyarankan trik sederhana: berhenti, tidur, atau tinggalkan sebentar. Nanti atau besok, baca lagi. Kebanyakan penulis, katanya, akan mendapati tulisannya tidak seburuk yang mereka lihat sebelumnya.
Jadi, manajemen emosi saat menulis itu sederhananya begini: jangan percaya apa pun yang kamu rasakan ketika kamu capek, lapar, ngantuk, terutama ketika kamu sudah menatap layar tiga jam tanpa jeda.
Manajemen emosi dalam menulis itu menyerupai belajar naik sepeda.
Manajemen emosi dalam menulis juga bukan soal menjadi stabil seperti jam digital. Sama sekali bukan. Ia lebih menyerupai belajar naik sepeda. Mula-mula kamu akan goyah, tapi lama-lama kamu paham cara menyeimbangkannya. Kamu jadi tahu kapan harus mengayuh, kapan harus mengerem, dan kapan harus berhenti sebentar buat ngopi.
Dan kalau suatu hari emosimu kacau balau tapi kamu tetap duduk menulis, itu sudah prestasi besar, Bray. Yang penting, ingat saja bahwa kamu tidak harus tenang untuk menulis. Kamu hanya perlu selalu hadir sebagai manusia yang sedang mencoba menulis, dengan pasang surut berbagai emosinya. Saya kira, karya yang menyentuh justru lahir dari seseorang yang berani menghadapi emosinya sendiri, bukan dari seseorang yang berusaha mati-matian menekan semuanya.
Lagian, kalau semua penulis menunggu emosinya rapi dulu baru menulis, mungkin sampai sekarang dunia cuma punya buku beberapa biji, karena pasti banyak penulis yang keburu mentok, padahal bab satu aja belum kelar. [MW]




