“Imperfection is not a writer’s worst enemy. What’s worse is a writer too proud to acknowledge their imperfections.” — S.J. Siedenburg
Semua penulis memulai tulisannya seperti meracik kopi sambil mengantuk. Begitulah draf pertama itu. Ia sering kali lahir sebelum kita benar-benar tahu apa yang ingin kita katakan. Lucunya, banyak penulis malah kesal pada diri sendiri ketika draf pertamanya tidak langsung memukau. Mereka mungkin lupa, mi instan saja perlu direbus tiga menit dulu sebelum siap caplok—itu pun kalau tak ada drama mencari bumbu yang terselip entah di mana.
Kebanyakan kita memang hanya melihat hasil akhir yang manis. Ketika melihat buku yang sudah dicetak rapi, kebanyakan orang membayangkan bahwa penulisnya duduk beberapa hari atau minggu, mengetik, lalu—jreeeng!—lahirlah mahakarya.
Kenyataannya tidak seindah itu, Ferguso. Kenyataannya, karya yang terbit selalu diawali draf pertama yang ditakdirkan buruk rupa. Di sana orang menulis kalimat ngaco, analogi berantakan, metafor embuh, bahkan dialog yang terdengar seperti dua robot baru belajar ngobrol. Dan itu semua perlu dimaklumi dengan hati lapang.
Draf pertama itu seperti gudang yang sebagiannya berisi rongsokan tak berguna, tapi toh bisa dibereskan. Kamu hanya perlu membuka pintunya, menghadapi dengan tabah timbunan yang menggunung, lalu mulai memilah satu per satu barang yang entah kenapa dulu kamu anggap perlu disimpan.
Draf pertama ditakdirkan berantakan, tetapi itu justru pintu masuk bagi kreativitas.
Karena itu, hal penting yang perlu diingat ketika menulis draf pertama adalah membiarkannya apa adanya dulu. Ketika seorang penulis berusaha membuat draf pertama sesempurna mungkin, biasanya mereka malah mentok di kalimat pertama. Belum apa-apa, mereka sudah sibuk memilah apakah sunyi lebih layak disimpan daripada hening, misalnya. Padahal, beres-beres itu belum waktunya.
Draf pertama adalah wilayah bebas penilaian. Ibaratnya, itu masih waktunya orang melukis dengan rengrengan dulu, baru dibikin jadi realistis atau malah hiper-realistis kemudian.
Supaya kamu enggak merasa insecure, ketahuilah bahwa para penulis besar pun tidak terlepas dari “dosa” draf buruk, kok. Anne Lamott mengatakan dalam Bird by Bird bahwa semua penulis hebat memiliki draf-draf pertama yang berantakan (shitty first drafts). Dan Ernest Hemingway malah lebih pukul rata lagi dengan bilang bahwa the first draft of anything is shit. Ini bukan alasan mereka untuk menjustifikasi keburukan tulisan, Bray. Tulisan bagus itu memang muncul setelah versi-versi yang membuat penulisnya sendiri ingin pura-pura amnesia.
Tulisan matang lahir setelah versi-versi yang membuat penulisnya ingin pura-pura amnesia.
Lalu, bagaimana caranya agar bisa berbesar hati menerima ketidaksempurnaan draf bertama?
Ada yang bilang bahwa cara terbaik merangkul ketidaksempurnaannya adalah dengan memberi jeda antara menulis dan menilai. Jadi, ketika kamu sedang menulis, jangan izinkan otak editormu ikut campur. Ia akan mengkritik hal-hal yang belum waktunya dikritik. “Kenapa metafornya begini?” “Ini terlalu panjang.” “Itu tidak jelas.” “Ini menyalahi kaidah.”
Jangan lupa juga, ketidaksempurnaan itu ciri manusia. Kalau sempurna, nanti malah dikira kamu sudah jadi dewa. Padahal, tulisan yang bagus justru lahir dari manusia yang berani menghadapi sisi mentahnya, yaitu ketidaksempurnaannya. Dan tulisan yang bagus bukan yang licin seperti porselen. Yang membuat pembaca konek biasanya cacat-cacat kecil, seperti obrolan yang enggak nyambung, narasi yang tidak lancar, pengakuan bodoh, atau metafor yang mungkin norak tapi pas.
Etapi, jangan juga ketidaksempurnaan kamu jadikan alasan untuk berhenti belajar, Dul! Merangkul kekacauan tulisan bukan berarti membiarkannya beranak-pinak. Kalau tulisan-tulisanmu makin hari makin berantakan tanpa perbaikan, itu sih bukan proses kreatif. Itu mah kamu kabur dari tanggung jawab. Idealnya, setiap tulisan berikutnya sedikit lebih rapi daripada sebelumnya meskipun, tentu saja, tak akan pernah benar-benar nol cacat.
Merangkul kekacauan draf pertama bukan berarti membiarkannya beranak-pinak.
Mungkin memperbaiki tulisan bisa juga diibaratkan menambal genteng bocor. Sering kali tidak akan benar-benar antibocor selamanya, tapi minimal kamu tidak harus menyiapkan baskom atau ember setiap hujan deras. Yang penting, kamu tidak mandek dengan dalih, “Ya…, namanya juga manusia, tempatnya salah dan dosa.”
O, ya, merangkul ketidaksempurnaan tulisan juga merupakan cara lain untuk merangkul diri sendiri. Sebaiknya kita sadari bahwa kita menulis untuk menjadi lebih peka pada keadaan dan lebih berani mengungkapkan pikiran, bukan untuk menulis dengan sempurna. Tulisan yang sempurna itu cuma mitos. Yang ada hanyalah tulisan yang cukup matang untuk dilepas ke dunia luas.
Kalau menunggu sampai tulisanmu sempurna, sampai kuda nikah sama Lisa Manoban juga kamu masih bengong di depan layar sambil sirik sama tu kuda.
Jadi, lanjutkanlah menulis. Biarkan jelek dulu. Biarkan ia tumbuh menjadi makin baik. Dan kalau suatu hari kamu membaca tulisan lamamu dan ingin berlagak tak kenal, anggap saja itu seperti fotomu dengan rambut poni lempar waktu SMP. Itu justru bukti bahwa kamu hidup dan berkembang. [MW]




