“I have written eleven books, but each time I think, ‘Uh oh, they’re going to find out now. I’ve run a game on everybody, and they’re going to find me out.’” — Maya Angelou
Ketika membaca kutipan di atas, saya langsung merasa punya teman. Maksud saya, kalau penulis sekelas Maya Angelou saja terkena sindrom penipu, bagaimana dengan saya yang masih deg-degan waktu mau mengunggah tulisan di medsos? Jadi, ketika suara nyinyir itu datang dan bilang, “Eh, emang beneran kamu bisa nulis?”, saya sering menjawab, “Santuy aja, Cuy. Bu Maya juga sering enggak pede. Padahal, dia tu legend yang namanya udah kondang di mana-mana.”
Tapi, apa itu sindrom penipu?
Sindrom penipu atau impostor syndrome adalah kondisi ketika seorang penulis merasa keberhasilannya tidak sah, seolah-olah dia cuma menipu pembaca dengan berlagak bisa menulis. Yang lebih ngeselin, makhluk satu ini tidak peduli seberapa sering orang berhasil. Bahkan ketika orang sudah menulis tiga novel yang diterbitkan atau menang dalam sepuluh lomba cerpen, ia tetap muncul sambil bertanya sengak: “Hm…, kamu yakin enggak lagi nipuuu…?” Akibatnya, orang jadi ragu dengan kemampuanmu sendiri.
Dugaan saya, banyak penulis mengalami sindrom penipu karena mereka membandingkan diri dengan penulis favorit mereka. Kita melihat tulisan orang lain yang rapi, matang, dan memikat, lalu kita melihat tulisan kita sendiri yang masih belepotan seperti balita mainan lipstik. Yang sering lupa disadari adalah bahwa kita membandingkan tahap “jadi” orang lain dengan “proses” kita. Ya, jelas enggak epel tu epel, Bray.
Kita sering membandingkan tahap “jadi” orang lain dengan “proses” kita sendiri. Itu adalah salah satu celah munculnya sindrom penipu.
Dan yang lebih bikin jengkel, sindrom penipu itu tidak pernah datang sendirian. Ia biasanya membawa rombongan. Dari rasa khawatir gagal, rasa takut dinilai orang, sampai rasa mual melihat tulisan sendiri. Saya terkadang heran, kok bisa sih satu hal kecil seperti itu mempunyai banyak pengikut? Tetapi, memang begitulah kelakuannya. Ia senang mengerahkan pasukan untuk membuat drama meskipun hidup kita sedang baik-baik saja.
Konon, cara termudah untuk melawan sindrom penipu adalah dengan terus menulis saja. Jadikan setiap kalimat yang kamu tulis sebagai bantahan, setiap paragraf sebagai bukti, dan setiap halaman sebagai toyoran bagi suara nyinyir itu, seolah-olah kamu bilang: “Aku tak peduli kamu mau ngomong apa, pokoknya aku tetap nulis.” Kamu tidak perlu berdebat panjang dengannya. Abaikan saja dan terus menulis.
Bisa juga kamu hadapi dengan humor. Ketika dia bilang, “Kamu penulis gadungan!”, kamu bisa jawab, “Iya, tapi gadungan yang produktif.” Kalau dia bilang, “Halah, kalau enggak pake AI, mana bisa kamu nulis?” jawab saja, “Benar sekali. Makanya saya terus belajar.” Kalau dia bilang, “Kamu penipu!”, jawab saja, “Setidaknya, saya penipu yang sudah menulis tujuh novel dan tiga puluh cerpen”—meskipun jawaban yang ini kedengaran lebay, sih.
Selain itu, ada satu hal yang mungkin tidak banyak orang tahu, yaitu bahwa banyak penulis besar pun pernah dan masih mengidap sindrom penipu ini. Bahkan, penulis yang bukunya laku jutaan eksemplar pun pernah berbisik, “Jangan-jangan buku ini laris cuma karena keberuntungan. Bisa jadi sebenarnya tulisanku ndak bagus-bagus amat.”
Sindrom penipu tidak peduli seberapa sering kamu berhasil; tiga novel terbit pun masih bisa dianggapnya cuma keberuntungan.
Seperti disinggung di bagian awal, Maya Angelou pun—yang karyanya masuk kurikulum sekolah dan memenangkan Pulitzer—pernah berkata bahwa setiap kali memulai buku baru, dia takut orang-orang akhirnya mengetahui bahwa dia telah “menipu dunia.” Begitu juga Neil Gaiman, yang mengaku menunggu sindrom penipu—dia menyebutnya fraud police—datang mengetuk pintunya karena ia merasa tidak layak menjadi penulis terkenal.
Sayangnya, ChatGPT tidak menemukan pernyataan penulis Indonesia, baik yang terkenal maupun tidak, yang mengalami sindrom penipu. Mungkin memang tidak ada yang menyatakan secara terbuka dan tersimpan di internet. Mungkin juga semua penulis Indonesia memang selalu percaya diri pada kemampuannya, seperti kamu, sehingga tak pernah didatangi sidrom penipu. Entahlah.
Meskipun demikian, dalam hubungan dengan si Nyinyir yang disebut Sindrom Penipu itu kamu tidak perlu merasa sendiri. Yakinlah, kamu sedang berdiri di tengah kerumunan korbannya, kerumunan yang berisi orang-orang terkenal yang juga pernah tidak pede dan belajar yakin pada kemampuan sendiri. Mungkin tidak ada penulis Indonesia dalam kerumunan itu, tapi kamu jelas berada dalam rombongan panjang penulis mancanegara yang tetap berkarya meski khawatir tulisannya tak layak diterbitkan.
Kemampuan menulismu ditentukan oleh seberapa bandel kamu tetap menulis meski ragu, bukan oleh seberapa percaya diri kamu hari ini.
Satu lagi, sindrom penipu tidak bisa dihilangkan sama sekali. Ia akan tetap nongol sesekali, mengintip dari balik tirai seperti tetangga yang doyan gibah. Tapi kamu tak perlu khawatir. Kamu sudah tahu cara menghadapinya. Senyumin aja, akui kehadirannya, lalu kembali menulis. Toh, kemampuan menulismu ditentukan oleh seberapa bandelnya kamu untuk tetap menulis meskipun ragu pada kemampuanmu, bukan oleh apakah kamu percaya diri atau tidak.
Dan kalau suatu hari sindrom penipu itu masih nyinyir juga, ya sudah, suruh dia duduk manis, seduhkan kopi tiga gelas, lalu biarkan ia menontonmu menulis sampai bete sendiri. [MW]




